Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada wanita itu. Namun wanita itu segera menjawab pertanyaan ku dengan nada tinggi, sepertinya dia sangat marah kepadaku.
Mencari ketenangan jiwa ketika hati ini sedang di landa kegelisahan. Mencari jalan menuju sesuatu yang di sebut kebahagiaan dalam setiap derita-Nya.
Sabtu, 06 September 2014
Aku harus pergi ternyata
Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada wanita itu. Namun wanita itu segera menjawab pertanyaan ku dengan nada tinggi, sepertinya dia sangat marah kepadaku.
Jumat, 18 Juli 2014
I need u God (aku kudu pie?)
Aku ingin menulis.
Tapi tanganku terasa kaku.
Pikiranku pun seperti beku.
Sejak masalah ini muncul, kata-kata seperti enggan datang kepadaku.
Karena kamu.
Ah… tidak.
Bukan begitu.
Lebih tepatnya karena aku.
Atau mungkin… karena kita.
Masalah ini seperti batu yang dijatuhkan ke dalam air.
Gelombangnya menjalar ke mana-mana.
Bukan hanya kita yang terkena dampaknya.
Orang tua ikut pusing.
Keluarga ikut memikirkan.
Seolah apa yang kita lakukan menjalar dan menyentuh banyak kehidupan.
Lalu aku harus bagaimana?
Atau mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah:
kita harus bagaimana?
Aku tahu.
Aku akui.
Ada bagian dari semua ini yang memang salahku.
Tapi tolong…
berhentilah terus menyalahkanku.
Karena menyalahkan tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun.
Mari kita cari jalan keluar.
Bukankah Allah tidak pernah memberi cobaan tanpa menyertakan jalan keluarnya?
Aku percaya itu.
Setiap ujian pasti sudah lengkap dengan jawabannya.
Hanya saja, jawaban itu tidak selalu datang dengan sendirinya.
Kadang kita harus mencarinya.
Meraba-raba dalam gelap.
Berjalan pelan meski kaki sudah mulai lelah.
Dan sekarang…
aku memang mulai lelah.
Tapi aku tidak ingin putus asa.
Namun satu pertanyaan terus berputar di kepalaku, seperti jarum yang tak berhenti:
Aku harus bagaimana?
Sementara tubuhku sendiri terasa lemah,
bahkan untuk melakukan sesuatu pun rasanya sulit.
Kadang aku berpikir aku masih bisa.
Kadang aku merasa aku sudah tidak mampu lagi.
Di tengah semua ini, satu pertanyaan lain muncul…
lebih sunyi, tapi jauh lebih menakutkan.
Apa aku sudah terlalu jauh dari-Mu, ya Allah?
Apa aku tersesat begitu jauh sampai aku tidak lagi bisa melihat jalan pulang?
Dan di tengah kebingungan ini, hanya satu kalimat yang terus terlintas di kepalaku—
kalimat sederhana, tapi penuh putus asa:
Aku kudu piye?
Aku harus bagaimana?
Kamis, 17 Juli 2014
Wanita Satu atau Dua
Aku adalah sosok wanita pencemburu.
Pada siapapun dan apapun yang dekat dengan laki-laki yang aku cinta.
Aku tidak ingin perhatian dari sosok yang siapapun aku cintai terbagi-bagi.
Bahkan aku tak pernah bisa menerima masa lalu jika dia pernah bersama wanita lain.
Suatu hari aku bertengkar dengan laki-lakiku, entah bagaimana bisa bertengkar, aku sudah lupa, yang aku ingat hanya masalah dia sayang dengan ibunya.
Saat itu aku marah luar biasa, tapi dengan sabar laki-lakiku menjelaskan.
"Kamu dan ibuku itu sosok wanita yang berbeda untukku, ibuku yang melahirkanku, yang membesarkanku hingga seperti ini, dan kamu wanita yang tidak pernah melahirkanku."
"Jadi?" tanyaku yang masih emosi.
"Jadi aku sayang ibuku dan kamu."
"Jadi aku wanita nomor dua yang kamu cintai?"
"Bukan seperti itu sayang, mengertilah."
"Kalau bukan seperti itu seperti apa?"
"Kamu memang tidak perrnah melahirkanku, tapi kamu yang akan melahirkan anak-anakku. Kamu akan mendapatkan cinta seperti cinta yang aku miliki untuk ibuku dari anak-anak kita."
"Astagfirullah.." kataku dalam hati.
Aku hanya bisa diam merenung, mendengar jawaban dari laki-lakiku yang luar biasa ini.
Ya. Untuk apa aku juga cemburu dengan wanita yang sudah melahirkan laki-lakiku? bukankah aku akan memiliki anak darinya? yang semoga saja bakti anak-anakku sama seperti laki-lakiku berbakti dengan orang tuanya.
Minggu, 25 Mei 2014
Ci(n)ta Monyet
“KITA PUTUS!!!”
Hanya dua kata.
Dikirim lewat pesan singkat, bertahun-tahun yang lalu.
Aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi sebelum pesan itu kukirim.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada drama yang berarti.
Tiba-tiba saja aku mengetik dua kata itu—
lalu mengirimkannya.
Untuk Randy.
Bukan Randy Pangalila. Bukan.
Hanya Randy biasa.
Mantan pacarku waktu SMA.
Pesannya singkat.
Hubungan kami pun tak kalah singkat.
Sejujurnya aku bahkan tidak ingat berapa lama kami berpacaran.
Apakah beberapa minggu?
Beberapa bulan?
Yang jelas, saat itu aku masih duduk di kelas satu SMA.
Di SMA Negeri 3 Demak, sekolah yang sampai sekarang masih kusebut sebagai salah satu tempat paling berkesan dalam hidupku.
Seperti kebanyakan orang yang selalu berkata, “masa SMA adalah masa paling indah,” aku pun merasakannya.
Di sana ada tawa.
Ada teman-teman yang terasa seperti keluarga.
Ada cerita-cerita konyol yang sampai sekarang masih bisa membuatku tersenyum saat mengingatnya.
Dan tentu saja… ada cinta.
Cinta yang orang-orang sering sebut sebagai cinta monyet.
Entah cintaku yang cinta monyet, atau cintanya yang cinta monyet.
Yang jelas satu hal yang aku tahu pasti: wajahku dan wajahnya sama sekali tidak mirip monyet.
Setelah pesan “PUTUS” itu kukirim, semuanya berubah.
Dia tidak pernah lagi membalas pesan-pesanku.
Bahkan ketika dia berjalan melewati depan kelasku, sapaku tak lagi mendapat jawaban.
Sejak saat itu…
kami berhenti berbicara.
Benar-benar berhenti.
Waktu berjalan cepat.
Tanpa terasa kami sampai di kelas tiga SMA.
Dan entah bagaimana, takdir mempertemukan kami lagi di kelas yang sama.
XII.IS.4.
Satu kelas.
Satu ruangan.
Hampir setiap hari bertemu.
Tapi tidak pernah benar-benar bertemu.
Kami seperti dua orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama.
Tak ada sapaan.
Tak ada percakapan.
Tak ada apa-apa.
Hanya diam.
Tahun-tahun berlalu.
Sekarang kejadian itu sudah terasa sangat lama.
Namun anehnya, jarak di antara kami masih tetap sama.
Bahkan saat reuni kelas.
Orang-orang saling tertawa, berpelukan, berjabat tangan, bernostalgia tentang masa SMA.
Aku melihatnya di sana.
Dan kami tetap… tidak saling menyapa.
Untuk sekadar berjabat tangan pun tidak.
Sebenarnya aku ingin memulai.
Ingin berkata, “Hai.”
Atau mungkin hanya tersenyum saja.
Tapi bayangan dicuekin di depan banyak orang rasanya terlalu memalukan.
Jadi aku memilih diam.
Pernah suatu hari aku iseng mencari namanya di media sosial.
Aku menemukan akunnya.
Dengan sedikit ragu, aku mengirim permintaan pertemanan.
Aku menunggu.
Sehari.
Dua hari.
Seminggu.
Tidak ada respon.
Permintaan itu tetap menggantung…
tanpa pernah diterima.
Sejak saat itu aku mulai mengerti sesuatu.
Mungkin dua kata yang pernah kukirimkan bertahun-tahun lalu benar-benar menghapusku dari hidupnya.
Seolah-olah aku tidak pernah ada.
Seolah-olah aku sudah lama hilang dari dunia.
Padahal sebenarnya…
aku masih di sini.
Masih hidup.
Masih ada.
Hanya saja…
tidak lagi ada di dalam dunianya.
Selamat Ulang Tahun Papa
23 Maret 2014
Hari ini ulang tahun papa, ya. Jam sudah menunjukkan pukul 00.00, tapi apakah papa memang lahir tepat pada 00.00 ??
Aku sering heran dengan orang-orang, aku lahir pada tanggal 27 Agustus pukul 8 malam, tapi teman-teman sudah berebut menjadi orang pertama yang mengucapkannya, sehingga pada pukul 00.00 sering kali banyak pesan masuk, dan pasti hp berdering pada tengah malam bergantian untuk menelponku. Bahagia?? tidak dong, karena usia bertambah sedangkan kedewasaan tidak, tidak membuatku bahagia.
Kembali ke hari ulangtahun papa.
Ya, aku berada di rumah, namun papa sudah tidur saat aku pulang kerja. Lantas yang aku lakukan pertama adalah mengedit foto papa, dan menuliskan Happpy birthday Papa di bingkai foto yang aku edit. Setalah itu aku kirimkan ke papa.
Sebelum tidur aku berdoa,
"Selamat Ulang Tahun Papa,
Semoga Allah memberikan papa umur panjang, kesehatan, dan rezeki yang belimpah.
Semoga kami anak-anaknya senantiasa bisa membahagiakannya selalu, dan bisa menjadi kebanggaan papa.
Semoga kebahagiaan dan kedamaian selalu tersemat di hatinya."
Saat matahari terbit, aku baru saja bangun, namun sepertinya papa sudah berpakaian kerja. Ya, papa ke kantornya yang lama. Setelah pulang dari kantor, barulah aku mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk papa.
Sabtu, 24 Mei 2014
Wanita dalam Kacamata Lelaki
Senin, 19 Mei 2014
Kehadiranku (Tak) Merubah Hidupmu
Aku hanyalah seorang aku.
Aku Hanyalah seorang aku.
Aku hanyalah seorang aku.
Aku hanyalah seorang aku.
Ya. Aku hanyalah seorang aku.
Bahkan jika ada pilihan uang atau aku, pastilah kamu lebih memilih uang dari pada aku.
Uang lebih bisa membahagiakanmu dari pada aku."
Setelah itu napas mereka saling memburu ketika bibir mereka saling berpagutan. Tanpa sadar tubuh lelaki itu sudah menindih wanitanya. Tiba-tiba lelaki itu menghentikan adegan tersebut. Tubuhnya dihempaskan ke sebelah wanita itu. Perlahan nafsunya tampak memudar. Wanita cantik yang telah memberinya kekayaan itu mencoba menggoda lelaki itu lagi. Namun lelaki itu tak bergeming. Hanya tatapan kosong entah apa yang dia lihat. Tanpa sadar lelaki itu menitikkan air matanya. Ya, karena surat cinta dari istrinya yang kini telah tiada.
Jumat, 16 Mei 2014
Nama Jodoh (Tak) Tertera dalam Website
Senin, 12 Mei 2014
Adik ku yang Entah
Sabtu, 10 Mei 2014
For my Lovely
Demi keinginan orang tuaku, terutama papa—laki-laki yang paling aku cintai di dunia ini—aku rela berada jauh dari mereka. Juga jauh dari kekasihku, untuk menjadi PNS di Kalimantan.
Namun saat ini, hatiku berbunga-bunga. Bahagia, senang, tak terkira.
Sebentar lagi pesawat yang kutumpangi akan mendarat di Pulau Jawa, tepatnya di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Itu berarti aku akan segera bertemu papa tersayang, mama tercinta, dan adik-adikku.
Dan tidak ada kebahagiaan yang lebih indah lagi, karena kali ini aku pulang bukan hanya untuk melepas rindu… tapi juga untuk menikah.
Ya. Seminggu lagi aku akan menikah dengan laki-laki kedua yang paling aku cintai di dunia ini.
Pagi itu, aku memasuki rumah kekasihku.
Rumah yang dulu sering kujadikan tempat singgah saat kuliah.
Di sinilah aku banyak menghabiskan waktu bersamanya—menjaga warnet, browsing, membaca blog, membantu menyelesaikan skripsinya, atau sekadar bercanda memperebutkan teh hangat yang kupersiapkan. Satu gelas untuk kami berdua, tapi selalu berakhir dengan tawa.
Setiap sore, aku juga sering membantu ibunya memasak di dapur, sambil tertawa bersama, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan manis yang tak terlupakan.
Ah, rasanya begitu lama kenangan itu berlalu.
Dan kini aku kembali… untuk benar-benar menjadi bagian dari keluarga itu.
Aku mengendap ke kamar kekasihku, kamar yang dulu selalu kucoba rapikan untuknya.
Suasana pagi sepi. Sepertinya kekasihku sedang memberi makan ayamnya.
Tiba-tiba terdengar isak tangis dari dapur. Aku menoleh, melihat ibu kekasihku sedang serius mengiris bawang.
Aku tersenyum kecil, “Ibu ini… mengiris bawang saja sampai menangis.”
Nampaknya ia tak menyadari kehadiranku.
Aku masuk ke kamar, berniat mengejutkan kekasihku dengan membuat kamarnya rapi seperti dulu.
Tak sengaja, mataku menangkap secarik kertas kumal di meja. Kupungut dan kubaca:
*"Sayang…
Kamu pasti tahu, aku tak pernah pandai menulis. Tak pandai merangkai kata indah. Bukan berarti aku tak sayang, hanya saja aku tak ingin bersikap menye-menye. Aku ingin menjadi lelaki kuat untukmu.
Tapi kali ini… aku mau sedikit menye-menye untukmu. Ya, hanya untukmu. Bahkan ini yang pertama dan terakhir kalinya aku menye-menye. Aku janji, hanya untukmu.
Sayang… aku sangat merindukanmu. Kata itu jarang kuucapkan padamu, tapi sebenarnya setiap detik aku merindukanmu. Aku hanya memilih diam, menikmati kerinduan yang semakin tak terbendung.
Aku merindukan manjamu, sayangku. Aku merindukan saat kau meminta sesuatu dengan suara manja yang tak bisa kuabaikan. Aku merindukan sosokmu yang selalu bisa kuandalkan, yang cerewet, yang selalu berhasil membuatku tertawa. Aku merindukanmu menangis dalam pelukanku, merindukan saat menemanimu sampai tertidur.
Aku merindukan candamu, nasehatmu ketika aku terpuruk, saat aku jatuh, putus asa, dan kamu selalu ada untuk menguatkanku.
Sayang… tak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, sampai aku berhenti bernapas. Aku akan terus menjaga diri untukmu, hingga kita bertemu, dimanapun kau berada.
Seandainya aku bisa lebih lama bersamamu… aku janji akan membahagiakanmu seumur hidupku.
Apakah semuanya terlambat? Seandainya bisa bertanya… apakah aku sudah cukup membahagiakanmu selama hidupmu?"*
Air mata menetes membasahi pipiku.
Aku segera mencari kertas dan bolpoint, menulis balasan dengan hati penuh haru:
"Sayang… aku sangat bersyukur memiliki laki-laki sepertimu.
Bersamamu, aku bahagia—bahagia yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
Terima kasih, sayang. Aku akan membawa cinta ini hingga akhir nafasku."
Kutaruh surat itu di meja dekat tempat tidurnya.
Tangisku terhenti ketika terdengar suara TV menyala di ruang keluarga.
Ternyata adik kekasihku menyalakannya.
Aku melihat fotoku bersama kekasihku di bingkai coklat di bufet, menatapnya lama… dan tersenyum.
Namun tiba-tiba, adiknya berteriak memanggil anggota keluarga lain.
Aku mencoba sembunyi di samping bufet, tapi tanpa sengaja… bingkai foto itu jatuh.
Acara berita di TV menayangkan kabar kecelakaan pesawat, yang kebetulan adalah pesawat yang kutumpangi kemarin.
Semua mata tertuju pada pecahan bingkai dan foto itu.
Calon ibu mertua ku memungut pecahan kaca sambil menangis.
Aku menatap calon suamiku… ia hanya menunduk lesu, raut wajahnya penuh kesedihan.
Aku memanggil mereka… calon ibu mertua, calon suamiku, calon adik iparku… tapi tak seorang pun bisa mendengarku.
Tak seorang pun bisa melihatku.
Ruangan terasa dingin, gelap, dan hampa.
Namun satu hal yang pasti…
Sayangku untuk calon suamiku, keluargaku, dan keluarga calon suamiku… takkan pernah pudar.
Aku menyayangi kalian.
Minggu, 04 Mei 2014
Menghadapi Masalah
Sabtu, 03 Mei 2014
Tak Sadar Telah Pulang
Ku lirik jam yang menempel di dinding kantorku. Jam menunjukan pukul 08.00 malam, saatnya untuk pulang dan beristirahat dari pekerjaan yang sangat menyita waktuku ini.
"Halo nak? Apa hari ini kamu pulang?"
"Iya, ini sudah di parkiran ma. Hari ini adek pulang ma. Tunggu ya."
"Iya, hati-hati ya nak."
Begitulah percakapan singkatku dengan mama ku.
Ya. Truk tadi benar-benar membawa ku pulang selamanya.
Minggu, 23 Maret 2014
Kisah Mereka
Aku bukan Tuhan, dan aku tak memiliki kuasa apapun atas siapa jodoh mereka, dan harus berakhir seperti apa kisah mereka.
Selasa, 28 Januari 2014
Bayangmu yang Misterius
Terdengar suara bel berbunyi tiga kali menandakan sekolah telah usai, para siswa SMA Finansia Multifinance itu bersorak gembira.
Namun tidak dengan siswa yang bernama Hendra. Duduk di bangku paling belakang dengan kursinya yang digerak-gerakkan hingga menimbulkan suara deritan. Tampak ia sedang resah namun tangannya masih sibuk menulis.
Yoga yang tak lain adalah teman dekat sekaligus sahabat Hendra ini menghampiri Hendra dan mengajaknya pulang.
"Ayo Hen, mendung nih, yuk pulang."
"Kamu pulang duluan aja, aku masih harus menyelesaikan karanganku ini."
"Yakin nih gak mau ditungguin?"
"Yakin 100%. uda sana pulang, bikin gak konsen."
"ya udah.."
Siang itu Hendra sedang mendapat hukuman membuat karangan tentang tempat wisata, Hendra memilih topik tempat wisata yang angker di Indonesia. Karangannya tersebut membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya setiap kali dia membayangkan apa yang saat ini sedang dia tulis.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Hendra bergegas memasukkan alat tulisnya ke dalam tas ranselnya lalu segera menuju ruang guru untuk mengumpulkan karangannya, beruntung penjaga sekolah belum mengunci ruang guru.
Di depan ruang guru, Hendra menyapu seluruh sudut sekolah, tak terlihat satupun siswa yang masih berada di sekolah ini.
Nampaknya langit sudah tak kuasa menahan awan yang sudah merata dilangit.
Saat Hendra hendak melangkahkan kaki menuju gerbang sekolahnya, Hendra dikagetkan dengan munculnya sosok laki-laki bertubuh pendek, berkulit hitam, kurus tepat di depannya. Ya, tak lain dia adalah penjaga sekolah di tempat Hendra bersekolah. Banyak yang takut dengan penjaga sekolah yang biasa dipanggil mang Komir itu lantaran wajahnya yang misterius.
Dengan nada misterius mang Komir berpesan pada Hendra
"Sebaiknya hati-hati, jangan pulang lewat hutan beringin kalau ingin selamat, lewatlah jalan utama."
Dengan nada tergagap Hendra menjawab
"i-iy-iya mang Komir."
Tiba-tiba tempat sampah yang ada di depan ruang guru terjatuh, seketka Hendra langsung menengok ke arah suara tersebut.
"oh, ternyata kucing, ngagetin aja." sambil tersenyum-senyum sendiri karena berpikir ini sungguh konyol.
lalu kucing berbulu hitam pekat itupun segera pergi.
Kemudian Hendra membalikkan badan tepat dimana tadi mang Komir berdiri. Seketika bulu kuduk Hendra berdiri, ketika mang Komir sudah tak terlihat dalam pandangan mata Hendra.
"Kemana yak mang Komir? Cepat sekali tu orang pergi." kata Hendra dalam hati.
Tanpa memikirkan mang Komir lebih lama lagi, Hendra segera bergegas pulang lewat hutan karena jaraknya lebih dekat dari lewat jalan utama.
Di tengah perjalanan, gerimis mulai turun.
"Ternyata seram juga ya, berjalan di bawah pohon-pohon beringin ini sendirian di tambah hujan germis." Kata nya dalam hati.
Karena berjalan sambil melamun, Hendra merasa ada yang mengikuti dirinya.
Suara langkah kaki misterius di belakang Hendra membuat Hendra kaget dan seketika Hendra menengok kebelakang, ternyata tak ada siapa-siapa.
"Ah mungkin hanya perasaan ku saja."
Tiba-tiba Hendra teringat akan pesan mang Komir kalau dia tidak boleh lewat hutan.
Karena sudah terlanjut lewat hutan, Hendra mempercepat jalannya menuju rumahnya. Entah mengapa perjalanan kali ini sangatlah panjang dan terasa begitu lama.
Namun, dia kembali merasakan hal yang sama. Ya, ada yang mengikutinya. Saat suara langkah kaki misterius yang mengikutinya itu terdengar jelas, dia langsung membalikkan badan ke belakang dan dia mendapati sosok bayangan misterius bersembunyi di salah satu pohon beringin yang usianya mungkin jauh lebih tua dari usianya.
Dalam hitungan detik Hendra langsung mengambil langkah seribu, ternyata sosok bayangan hitam misterius itu juga mengejarnya. Kejadian yang tak diinginkan pun terjadi, Hendra tersandung akar pohon beringin hingga terjatuh.
Hendra memberanikan diri menengok kebelakang, namun bayangan hitam itu bukan lah menjadi bayangan hitam lagi. Hendra melihat sosok wanita muda mengenakan jas hujan berwarna hitam, dengan rambut berponi, matanya bulat berwarna coklat. Wanita tersebut hanya tersenyum-senyum memandang Hendra yang saat ini sedang menatapnya dengan gemetaran.
Tak lama kemudian mang Komir datang.
Dengan nada setengah menyesal, mang Komir berkata "Saya sudah bilang jangan lewat hutan, wanita ini adalah istri muda saya, dia sedang tidak waras karena kebanyakan hutang di Kredit plus. Karena tidak waras dia jadi sering datang ke hutan ini. Memang banyak orang yang mengaku melihat sosok bayangan misterius setiap lewat sini. Tak lain bayangan misterius itu adalah istri saya sendiri. Jadi maafkan saya mas Hendra, saya sudah sering melarang istri saya kesini, tp ya orang sedang tidak waras saya tidak bisa berbuat apa-apa, sekali lagi maaf, istri saya sudah membuat mas Hendra ketakutan."








