Minggu, 25 Mei 2014

Ci(n)ta Monyet

“KITA PUTUS!!!”

Hanya dua kata.
Dikirim lewat pesan singkat, bertahun-tahun yang lalu.

Aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi sebelum pesan itu kukirim.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada drama yang berarti.

Tiba-tiba saja aku mengetik dua kata itu—
lalu mengirimkannya.

Untuk Randy.

Bukan Randy Pangalila. Bukan.
Hanya Randy biasa.
Mantan pacarku waktu SMA.

Pesannya singkat.
Hubungan kami pun tak kalah singkat.

Sejujurnya aku bahkan tidak ingat berapa lama kami berpacaran.
Apakah beberapa minggu?
Beberapa bulan?

Yang jelas, saat itu aku masih duduk di kelas satu SMA.

Di SMA Negeri 3 Demak, sekolah yang sampai sekarang masih kusebut sebagai salah satu tempat paling berkesan dalam hidupku.

Seperti kebanyakan orang yang selalu berkata, “masa SMA adalah masa paling indah,” aku pun merasakannya.

Di sana ada tawa.
Ada teman-teman yang terasa seperti keluarga.
Ada cerita-cerita konyol yang sampai sekarang masih bisa membuatku tersenyum saat mengingatnya.

Dan tentu saja… ada cinta.

Cinta yang orang-orang sering sebut sebagai cinta monyet.

Entah cintaku yang cinta monyet, atau cintanya yang cinta monyet.
Yang jelas satu hal yang aku tahu pasti: wajahku dan wajahnya sama sekali tidak mirip monyet.


Setelah pesan “PUTUS” itu kukirim, semuanya berubah.

Dia tidak pernah lagi membalas pesan-pesanku.

Bahkan ketika dia berjalan melewati depan kelasku, sapaku tak lagi mendapat jawaban.

Sejak saat itu…
kami berhenti berbicara.

Benar-benar berhenti.

Waktu berjalan cepat.

Tanpa terasa kami sampai di kelas tiga SMA.
Dan entah bagaimana, takdir mempertemukan kami lagi di kelas yang sama.

XII.IS.4.

Satu kelas.
Satu ruangan.
Hampir setiap hari bertemu.

Tapi tidak pernah benar-benar bertemu.

Kami seperti dua orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama.
Tak ada sapaan.
Tak ada percakapan.
Tak ada apa-apa.

Hanya diam.

Tahun-tahun berlalu.

Sekarang kejadian itu sudah terasa sangat lama.
Namun anehnya, jarak di antara kami masih tetap sama.

Bahkan saat reuni kelas.

Orang-orang saling tertawa, berpelukan, berjabat tangan, bernostalgia tentang masa SMA.

Aku melihatnya di sana.

Dan kami tetap… tidak saling menyapa.

Untuk sekadar berjabat tangan pun tidak.

Sebenarnya aku ingin memulai.

Ingin berkata, “Hai.”
Atau mungkin hanya tersenyum saja.

Tapi bayangan dicuekin di depan banyak orang rasanya terlalu memalukan.

Jadi aku memilih diam.

Pernah suatu hari aku iseng mencari namanya di media sosial.
Aku menemukan akunnya.

Dengan sedikit ragu, aku mengirim permintaan pertemanan.

Aku menunggu.

Sehari.
Dua hari.
Seminggu.

Tidak ada respon.

Permintaan itu tetap menggantung…
tanpa pernah diterima.

Sejak saat itu aku mulai mengerti sesuatu.

Mungkin dua kata yang pernah kukirimkan bertahun-tahun lalu benar-benar menghapusku dari hidupnya.

Seolah-olah aku tidak pernah ada.

Seolah-olah aku sudah lama hilang dari dunia.

Padahal sebenarnya…
aku masih di sini.

Masih hidup.
Masih ada.

Hanya saja…
tidak lagi ada di dalam dunianya.

Selamat Ulang Tahun Papa

22 Maret 2014

Dalam perjalanan ku menuju tempat dimana aku bekerja, aku teringat papa.

Besok adalah hari ulang tahun papa.

Ya. Itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah aku lupa.

Hari dimana papaku di lahirkan. Rasanya memang perlu sekali berterimakasih kepada nenekku yang sudah melahirkan lelaki yang begitu sempurna untukku.

Barangkali dalam kenyataan aku tak bisa berlebay-lebay ria untuk menyatakan rasa sayang yang begitu besar kepada papa. Tapi memang kenyataanya Papa adalah laki-laki yang paling aku sayang di dunia ini.

23 Maret 2014


Hari ini ulang tahun papa, ya. Jam sudah menunjukkan pukul 00.00, tapi apakah papa memang lahir tepat pada 00.00 ??

Aku sering heran dengan orang-orang, aku lahir pada tanggal 27 Agustus pukul 8 malam, tapi teman-teman sudah berebut menjadi orang pertama yang mengucapkannya, sehingga pada pukul 00.00 sering kali banyak pesan masuk, dan pasti hp berdering pada tengah malam bergantian untuk menelponku. Bahagia?? tidak dong, karena usia bertambah sedangkan kedewasaan tidak, tidak membuatku bahagia.

Kembali ke hari ulangtahun papa.

Ya, aku berada di rumah, namun papa sudah tidur saat aku pulang kerja. Lantas yang aku lakukan pertama adalah mengedit foto papa, dan menuliskan Happpy birthday Papa di bingkai foto yang aku edit. Setalah itu aku kirimkan ke papa.

Sebelum tidur aku berdoa,

"Selamat Ulang Tahun Papa,

Semoga Allah memberikan papa umur panjang, kesehatan, dan rezeki yang belimpah.

Semoga kami anak-anaknya senantiasa bisa membahagiakannya selalu, dan bisa menjadi kebanggaan papa.

Semoga kebahagiaan dan kedamaian selalu tersemat di hatinya."

Saat matahari terbit, aku baru saja bangun, namun sepertinya papa sudah berpakaian kerja. Ya, papa ke kantornya yang lama. Setelah pulang dari kantor, barulah aku mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk papa.

Sabtu, 24 Mei 2014

Wanita dalam Kacamata Lelaki





Sendirian dan kesepian adalah makanan sehari-hari lelaki itu. Besok adalah hari ulang tahunnya yang ke tiga puluh.

"Tuhan, umurku kian bertambah, namun aku masih sendiri. Tuhan yang Maha Baik. Aku sangat berharap Engkau memberikanku seorang wanita. Tuhan, berikanlah aku pendamping hidup yang setia, yang bisa menjadi penyemangatku untuk bekerja, dan setia menungguku di rumah kala aku tak ada disampingnya. Tuhan yang Baik, berikanlah wanita terbaik untukku di usiaku yang sudah matang ini." Doa lelaki itu saat merayakan ulang tahunnya, tentunya dia merayakannya sendirian.

Di sudut stasiun lelaki itu duduk, mengenakan jas abu-abu, dia sedang menunggu kereta, alat transportasi yang sudah bertahun-tahun ia gunakan untuk pulang kerja.

Seorang anak perempuan yang usianya sekitar tujuh tahun berpakaian lusuh menghampiri lelaki itu menawarkan kacamata yang dia jual.

"Kacamatanya pak, harganya lima belas ribu." Kata anak perempuan itu tadi.

Sebenarnya lelaki itu tidak membutuhkannya. Tapi dia tetap membeli kacamata itu. Bingkai dan kacanya berkacamata coklat.

"Kembaliannya untuk kamu saja." Kata lelaki itu.

Sesampainya di rumah, dia merebahkan diri di tempat tidur yang biasa dia tiduri, matanya menuju layar tv yang ada di depan tempat tidurnya itu, dia mengganti-ganti chanel stasiun tv, sepertinya acaranya tidak ada yang menarik. Tiba-tiba lelaki itu teringat akan kacamata yang telah dia beli di stasiun tadi.

Dia mencari kacamata coklat itu sambil bergumam "coba ada wanitaku yang selalu menyambutku dengan secangkir teh hangat ataupun coklat hangat saat aku lelah pulang dari kantor."

Lalu dicobanya kacamata tersebut.

"Kenapa terang sekali memakai kacamata ini. Bukankah kacanya berwarna coklat, kenapa jika di pakai tak ada efek warna coklat?" Dengan perasaan heran lelaki itu segera duduk di depan cerminnya.

"Keren juga."

Lelaki itu menyapu pandangannya ke semua arah sudut kamar tidurnya, namun betapa terkejutnya ketika dia mendapati seorang wanita memakai lingery merah di atas ranjangnya.

Dengan tergagap lelaki itu bertanya, "si-siapa kamu?"

Wanita itu menjawab pertanyaan lelaki tersebut hanya dengan senyuman genit.

Lelaki itu segera melepaskan kacamatanya, dia melihat ke arah tempat tidur tersebut, namun wanita itu sudah tak ada di sana. Dia memberanikan diri memakai kacamata itu lagi untuk melihat wanita itu.

Ya. Wanita itu masih berada di tempat tidurnya. Bahkan wanita itu memanggil lelaki tersebut dengan suara mendesah.

"Mas, kemarilah."

Ketika lelaki itu melepaskan kacamatanya, dia tidak bisa melihat wanita tersebut.

Akhirnya dia sadar bahwa wanita tersebut hanya bisa dia lihat dengan kacamata coklat yang dia beli di stasiun tadi pagi.

"Terimakasih Tuhan, telah mengirimkanku wanita dalam kacamata."

Senin, 19 Mei 2014

Kehadiranku (Tak) Merubah Hidupmu

Jam menunjukkan pukul 23.33

Lelaki itu sedang sibuk menata kamarnya, mengganti dengan seprai warna putih sekaligus sarung bantalnya. Lalu menyalakan lilin yang mengitari ranjangnya dan menaburkan bunga mawar merah di ranjangnya.

"Akhirnya selesai juga.." Lelaki itu bergumam.

Kamarnya menjadi nampak seperti kamar pengantin baru, yang telah dia siapkan untuk wanitanya yang akan menemuinya tepat pukul 00.00 malam ini.

Sambil menunggu wanitanya yang hanya dia temui seminggu sekali, setiap hari selasa, lelaki itu duduk di meja rias istrinya. Tanpa sengaja dia menemukan sebuah amplop merah muda yang ada di meja rias istrinya itu. Lalu lelaki itu segera membuka isi amplop tersebut. Ternyata amplop merah muda tersebut berisikan surat cinta dari istrinya. Dengan rasa penasaran, lelaki itu membaca surat dari istrinya tersebut.

"Aku hanya seorang aku.
Walau sudah berusaha selalu membuatmu bahagia berada di dekatku, itu tak pernah berpengaruh apapun di hidupmu.

Aku hanyalah seorang aku.
Wanita berparas biasa saja. Dengan paras seperti ini, bagaimana bisa aku membahagiakanmu?

Aku Hanyalah seorang aku.
Berusaha memberikan sesuatu untukmu. Namun tak pernah kau anggap ada.

Aku hanyalah seorang aku.
Wanita miskin, yang bekerja sebagai karyawan biasa dan tak mampu mencukupi kebutuhanmu.

Aku hanyalah seorang aku.
Wanita yang selalu mencintaimu dan tak pernah menuntut apapun darimu, untuk bisa membuatmu tersenyum di sampingku.

Ya. Aku hanyalah seorang aku.
Wanita yang tak akan pernah bisa membuatmu bahagia dengan sedikit uang yang aku miliki.

Bahkan jika ada pilihan uang atau aku, pastilah kamu lebih memilih uang dari pada aku.
Menurutmu wanita bisa di dapatkan dengan uang. Sedangkan aku wanitamu ini tak bisa menghasilkan uang yang cukup untukmu.

Uang lebih bisa membahagiakanmu dari pada aku."



Jam berdentang dua belas kali, lampu meredup dengan sendirinya. Kini hanya ada cahaya lilin yang menerangi kamar itu. Harum bunga jasmine mulai tercium oleh lelaki tersebut. Wanita yang ditunggu-tunggu telah datang memasuki kamar yang seperti kamar pengantin tadi.

Parasnya sangatlah cantik seperti bidadari yang turun dari kayangan, tubuhnya padat berisi, kulitnya putih mulus bersih, rambutnya terurai panjang berbando rangkaian bunga melati. Tubuh wanita itu hanya dibalut oleh selembar kain berwarna hijau transparan.

Dengan genit wanita itu memanggil lelaki yang sedari tadi nampaknya sedang melamun di depan meja rias. Suaranya mendesah. Kedipan matanya nakal. Dadanya membusung dari balik kain berwarna hijau transparan tersebut dengan sengaja.

Setelah itu napas mereka saling memburu ketika bibir mereka saling berpagutan. Tanpa sadar tubuh lelaki itu sudah menindih wanitanya. Tiba-tiba lelaki itu menghentikan adegan tersebut. Tubuhnya dihempaskan ke sebelah wanita itu. Perlahan nafsunya tampak memudar. Wanita cantik yang telah memberinya kekayaan itu mencoba menggoda lelaki itu lagi. Namun lelaki itu tak bergeming. Hanya tatapan kosong entah apa yang dia lihat. Tanpa sadar lelaki itu menitikkan air matanya. Ya, karena surat cinta dari istrinya yang kini telah tiada.

Lelaki itu menyesal telah menjadikan istrinya tumbal pertama untuk dipersembahkan kepada wanitanya, lalu menukarnya dengan kekayaan yang dia miliki saat ini.

"Semuanya sudah terlambat. Aku telah membuat perjanjian dengan iblis wanita itu tiga bulan yang lalu. Kini aku tak bisa lepas darinya. Maafkan aku istriku."

Jumat, 16 Mei 2014

Nama Jodoh (Tak) Tertera dalam Website


Jam berdentang tiga kali menunjukkan jam tiga pagi.

Sudah hampir delapan jam aku berada di depan monitor laptopku. Mata dan hati kian menyatu. Entah sudah berapa kali aku  mengisi ulang gelas dengan kopi hitam pekat untuk menyangga rasa kantuk yang sesekali menyelinap ke dalam tubuhku.

Rasa keingintahuanku membuatku tak gentar untuk berlama-lama di depan laptop.

Masih saja terngiang-ngiang kata-kata kekasihku

"Nama jodoh kita itu sudah tertulis di dalam website pribadi kita masing-masing."

Itulah satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan melawan kantuk dan lelah yang mendera. Kembali ku tatap monitor laptopku yang bisa jadi memang sudah jenuh ku tatap untuk yang kesekian kalinya. Dengan setia dan penuh pengertian internet menemaniku dalam pencarian. Memang belum ku temukan. Namun aku masih belum putus asa.

Ya. Sebuah alasan pasti mengapa aku betah berlama-lama bercengkrama dengan laptopku. Bukan karena sedang mencari tahu nama jodohku..

tapi nama jodohmu.

Aku memegang ponselku mencoba menghubungi kekasihku lewat pesan, bukan berarti aku menyerah mencari nama jodohnya.

"Sayang, aku belum tidur hingga detik ini. Kamu tahu untuk apa? untuk mencari tahu nama jodohmu dalam website pribadimu. Pernahkah terbayang olehmu apa yang akan aku lakukan jika nama yang tertera dalam website pribadimu itu bukan namaku?"

Sebelum matahari terbit, tiba-tiba ada sosok yang hangat dan menenangkan saat aku masih setia berada di depan layar laptopku.

Ya. Dia adalah kekasihku.

Kekasihku menjawab secara langsung pertanyaan yang aku kirim lewat pesan "Sayang, kamu seharusnya tidur, bukan begadang mencari sebuah nama yang memang tak pernah ada dalam website, karena aku tak pernah memiliki website pribadi, yang aku miliki dalam hidupku hanya kamu. Kamu mencari tahu siapa nama jodohku? jodohku tertera dalam buku nikah, maka dari itu maukah kamu menikah denganku?"

#####

Senin, 12 Mei 2014

Adik ku yang Entah


Hari ini adalah hari pertama ku pulang ke rumah setelah berbulan-bulan lamanya aku berada di rumah sakit. Yang aku sendiri tak tau apa penyakit yang aku derita hingga lama sekali aku berada di rumah sakit. Aku sangat bahagia bisa melihat rumah dimana tempat aku dibesarkan dahulu. Tak ada yang lebih membahagiakan dari sambutan kedua orang tuaku, serta adik perempuan ku satu-satunya.

"Sepertinya keluarga kita bertambah?" tanya ku pada mama ku.

"Dia adalah pembantu kita yang baru. Dia tinggal disini untuk mengurus rumah kita. Mama kewalahan sayang."

Akupun mengabaikan jawaban mama lalu segera menuju kamarku, tempat biasa aku merebahkan diri dan tempat favorit ku di rumah. Adik ku mengikutiku.

"Sudah berapa lama wanita itu tinggal di rumah kita?" Tanya ku kepada adik ku.

"Baru tiga bulan kak? Kenapa? kakak tidak suka ya? Aku juga."

"Kenapa kamu tidak menyukainya?"

"Karena dia sering menyiksa ku ketika mama dan papa tak ada di rumah. Dia juga seolah-olah ingin merebut perhatian papa dari mama."

"Benarkah? Seharusnya kita segera mengusirnya dari rumah."

Keesokan harinya, ketika orang tua ku semua bekerja. Pembantu yang ada di rumah ku membuatkan aku segelas susu. Saat aku aku akan meminumnya, adikku melarang ku meminum susu tersebut.

"Susu itu sudah diberi racun, jangan diminum." Bisik adikku.

"Benarkah? kalau begitu aku akan minum yang lainnya saja."

Aku menuju kulkas untuk mengambil minuman lain, namun saat aku membuka kulkas, adikku berteriak kencang sekali. Aku melihatnya berada di kursi dapur dengan tangan terikat dan mulutnya dipenuhi roti. Aku segera menolongnya.

"Siapa yang melakukan ini padamu sayang?" Tanya ku dengan penuh kepanikan.

"Wanita itu yang melakukannya karena telah memberi tahumu tentang susu yang telah dia buat untukmu." Jawabnya dengan tangis yang terisak.

Aku segera menenangkannya dan mengajaknya ke kamarku.

"Seharusnya kita bisa membuat dia pergi dari rumah ini." Kata ku kepada adikku.

"Bagaimana caranya?"

"Kita beritahu papa dan mama."

Sore telah tiba, aku berusaha memberitahu orang tua ku, pembantu itu berusaha menyakiti ku dengan susu yang beracun, namun mereka tak percaya malah akan meninggalkan ku ke acara pernikahan teman mereka.

Sebelum orang tua ku berangkat ke acara pernikahan teman mereka, aku dan adik ku merebahkan diri di ranjang biasa orang tua ku tidur sambil mengamati ibu ku yang masih sibuk dandan di depan cermin sambil memakai gaunnya.

Tiba-tiba mama ku berteriak kegatalan, gaun yang dipakai mama ku terdapat sarang semut.

"Pasti wanita itu yang membuat baju mama menjadi sarang semut" kata adikku.

"Ya, benar, pasti wanita itu ma yang telah meletakkan semut-semut itu, dia ingin mencelakai mama karena ingin mendapatkan papa." Aku mengulang kata-kata adikku.

Walau mama ku tidak jadi berangkat ke pesta pernikahan temannya, hanya papa yang berangkat, tapi mama ku masih tak mempercayai bahwa yang meletakkan semut-semut itu adalah pembantu itu.

Aku kembali ke kamar ku, mencari cara lain untuk mengusir pembantu itu pergi dari sini.

Tiba-tiba adik ku memberitahuku bahwa dia melihat pembantu itu membawa air panas ke dalam kamar mama untuk disiramkan ke muka mama agar mama ku yang masih cantik terlihat jelek.

Aku segera ke kamar mama untuk menolong mama, namun pembantu tersebut berhasil menangkapku, lalu menyekapku di dalam kamar ku. Aku dengar adik ku berteriak-teriak ketakutan, sepertinya dia sedang di kejar-kejar pembantu itu. Aku pun berusaha melepaskan ikatan tali yang melilit di tangan dan di tubuhku. saat aku berhasil meloloskan diri, aku tak mendengar suara apapun, aku hanya melihat darah di lantai menuju kamar pembantu ku. Aku sangat mengkhawatirkan adikku.

Setelah tiba di kamar pembantuku, aku berteriak melihat mayat pembantu itu.

"Maafkan aku kak, melakukan ini, aku hanya ingin menyelamatkan keluarga kita" Kata adikku sambil menangis.

Aku segera memeluk adik ku.

"Tak apa, jangan takut, aku akan melindungimu" Aku berusaha menenangkan adikku.

Tiba-tiba di pintu mama ku berteriak sejadi-jadinya tepat saat papa ku pulang dari pesta pernikahan temannya. Aku hanya menatap mama ku sambil memegang erat tangan adik ku yang bersimbah darah.

"Apa yang kamu lakukan dengan pembantu kita?" kata papa ku setengah berteriak.

"Aku tidak melakukan apa-apa, hanya saja adik ingin menyelamatkan keluarga kita dari pembantu jahat ini."

"Apa katamu?" Kali ini papa benar-benar membentak ku.

"Benar pa, aku tidak melakukannya, yang melakukannya adik, dia menyelamatkan kita" Semakin erat tangan ku menggenggam tangan adik ku.

Namun papa menjawab,

"Adikmu sudah meninggal satu tahun yang lalu!"

Aku segera menengok ke samping tepat dimana adik ku berdiri. Namun dia tak ada.

Sambil menangis aku memanggil-manggil adik ku.

"Sepertinya dia belum benar-benar sembuh" kata mama ku kepada papa ku dalam isak tangisnya.

Lalu tangan siapa yang aku genggam?

Yang ada hanya sebilah pisau dalam genggaman ku.

####

Sabtu, 10 Mei 2014

For my Lovely

Demi keinginan orang tuaku, terutama papa—laki-laki yang paling aku cintai di dunia ini—aku rela berada jauh dari mereka. Juga jauh dari kekasihku, untuk menjadi PNS di Kalimantan.

Namun saat ini, hatiku berbunga-bunga. Bahagia, senang, tak terkira.
Sebentar lagi pesawat yang kutumpangi akan mendarat di Pulau Jawa, tepatnya di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Itu berarti aku akan segera bertemu papa tersayang, mama tercinta, dan adik-adikku.

Dan tidak ada kebahagiaan yang lebih indah lagi, karena kali ini aku pulang bukan hanya untuk melepas rindu… tapi juga untuk menikah.
Ya. Seminggu lagi aku akan menikah dengan laki-laki kedua yang paling aku cintai di dunia ini.

Pagi itu, aku memasuki rumah kekasihku.
Rumah yang dulu sering kujadikan tempat singgah saat kuliah.
Di sinilah aku banyak menghabiskan waktu bersamanya—menjaga warnet, browsing, membaca blog, membantu menyelesaikan skripsinya, atau sekadar bercanda memperebutkan teh hangat yang kupersiapkan. Satu gelas untuk kami berdua, tapi selalu berakhir dengan tawa.
Setiap sore, aku juga sering membantu ibunya memasak di dapur, sambil tertawa bersama, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan manis yang tak terlupakan.

Ah, rasanya begitu lama kenangan itu berlalu.
Dan kini aku kembali… untuk benar-benar menjadi bagian dari keluarga itu.

Aku mengendap ke kamar kekasihku, kamar yang dulu selalu kucoba rapikan untuknya.
Suasana pagi sepi. Sepertinya kekasihku sedang memberi makan ayamnya.
Tiba-tiba terdengar isak tangis dari dapur. Aku menoleh, melihat ibu kekasihku sedang serius mengiris bawang.
Aku tersenyum kecil, “Ibu ini… mengiris bawang saja sampai menangis.”
Nampaknya ia tak menyadari kehadiranku.

Aku masuk ke kamar, berniat mengejutkan kekasihku dengan membuat kamarnya rapi seperti dulu.
Tak sengaja, mataku menangkap secarik kertas kumal di meja. Kupungut dan kubaca:

*"Sayang…
Kamu pasti tahu, aku tak pernah pandai menulis. Tak pandai merangkai kata indah. Bukan berarti aku tak sayang, hanya saja aku tak ingin bersikap menye-menye. Aku ingin menjadi lelaki kuat untukmu.

Tapi kali ini… aku mau sedikit menye-menye untukmu. Ya, hanya untukmu. Bahkan ini yang pertama dan terakhir kalinya aku menye-menye. Aku janji, hanya untukmu.

Sayang… aku sangat merindukanmu. Kata itu jarang kuucapkan padamu, tapi sebenarnya setiap detik aku merindukanmu. Aku hanya memilih diam, menikmati kerinduan yang semakin tak terbendung.

Aku merindukan manjamu, sayangku. Aku merindukan saat kau meminta sesuatu dengan suara manja yang tak bisa kuabaikan. Aku merindukan sosokmu yang selalu bisa kuandalkan, yang cerewet, yang selalu berhasil membuatku tertawa. Aku merindukanmu menangis dalam pelukanku, merindukan saat menemanimu sampai tertidur.

Aku merindukan candamu, nasehatmu ketika aku terpuruk, saat aku jatuh, putus asa, dan kamu selalu ada untuk menguatkanku.

Sayang… tak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, sampai aku berhenti bernapas. Aku akan terus menjaga diri untukmu, hingga kita bertemu, dimanapun kau berada.

Seandainya aku bisa lebih lama bersamamu… aku janji akan membahagiakanmu seumur hidupku.
Apakah semuanya terlambat? Seandainya bisa bertanya… apakah aku sudah cukup membahagiakanmu selama hidupmu?"*

Air mata menetes membasahi pipiku.
Aku segera mencari kertas dan bolpoint, menulis balasan dengan hati penuh haru:

"Sayang… aku sangat bersyukur memiliki laki-laki sepertimu.
Bersamamu, aku bahagia—bahagia yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
Terima kasih, sayang. Aku akan membawa cinta ini hingga akhir nafasku."

Kutaruh surat itu di meja dekat tempat tidurnya.

Tangisku terhenti ketika terdengar suara TV menyala di ruang keluarga.
Ternyata adik kekasihku menyalakannya.
Aku melihat fotoku bersama kekasihku di bingkai coklat di bufet, menatapnya lama… dan tersenyum.

Namun tiba-tiba, adiknya berteriak memanggil anggota keluarga lain.
Aku mencoba sembunyi di samping bufet, tapi tanpa sengaja… bingkai foto itu jatuh.
Acara berita di TV menayangkan kabar kecelakaan pesawat, yang kebetulan adalah pesawat yang kutumpangi kemarin.

Semua mata tertuju pada pecahan bingkai dan foto itu.
Calon ibu mertua ku memungut pecahan kaca sambil menangis.
Aku menatap calon suamiku… ia hanya menunduk lesu, raut wajahnya penuh kesedihan.

Aku memanggil mereka… calon ibu mertua, calon suamiku, calon adik iparku… tapi tak seorang pun bisa mendengarku.
Tak seorang pun bisa melihatku.

Ruangan terasa dingin, gelap, dan hampa.
Namun satu hal yang pasti…

Sayangku untuk calon suamiku, keluargaku, dan keluarga calon suamiku… takkan pernah pudar.
Aku menyayangi kalian.










Minggu, 04 Mei 2014

Menghadapi Masalah


Bagaimana cara kita menghadapi suatu permasalahan akan sangat berpengaruh pada kehidupan kita pada masa mendatang.

Saya memiliki dua orang teman sebut saja si Andi dan si Budi yang saat itu bekerja disuatu perusahaan yang sedang berkembang. Mereka dijanjikan gaji yang cukup dari managernya. Sehingga mereka berduapun menyanggupi dan mau bekerja di perusahaan tersebut.

Satu bulan pun terlewati, tiba saatnya mereka menerima gaji atas kerja mereka selama satu bulan.
Ternyata gaji yang mereka terima tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh manager perusahaan tersebut, bahkan jauh lebih rendah dari yang dijanjikan. Mereka hanya menerima 30% dari apa yang sudah dijanjikan oleh manager perusahaan tersebut.

Mereka berdua sebenarnya ingin sekali menghadap kepada BMnya dan menanyakan kenapa gajinya tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh managernya, berhubung tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa managernya itu pernah menjanjikan gaji yang lebih tinggi dari yang diterima, maka pertanyaan tersebut diurungkan.

Setelah kejadian tersebut, mereka berdua sangat kecewa dengan managernya yang tidak menepati janji dan akhirnya memutuskan untuk resign dari perusahaan tersebut.

Saat itu si Andi sangat down, ditambah lagi dengan kondisi keuangan yang minus. "Aku memang bodoh, bisa tertipu, aku malu dengan orang tua ku yang menyekolahkan ku hingga sarjana namun aku masih belum bisa apa-apa, menghidupi diri sendiri saja susah, apa lagi membahagiakan mereka," gumam Andi dalam hati.Setelah itu Andi memutuskan untuk berdiam diri di rumah. Kejadian tersebut membuat dia murung dan kehilangan semangat mencari pekerjaan yang baru hingga kejadian tersebut berlanjut selama berminggu-minggu. Andi sudah merasa putus asa.

Tidak jauh berbeda dengan Andi, Budi pun kecewa dengan apa yang sudah dia alami. Namun tindakan mereka berbeda. "Mungkin saja kali ini memang saya tidak beruntung, pasti ada hikmah dibalik semua ini, saya harus berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik lagi," gumam Budi dalam hati. Untuk menghadapi kegalauannya, dengan semangat tak kenal putus asa Andi membuat sepuluh lamaran pekerjaan kepada sepuluh perusahaan, dengan persentase tiga penipuan, empat ditolak, dan tiga interview panggilan kerja. Setidaknya ada harapan satu dari tiga interview yang diterima.

Memang ada perbedaan yang mencolok dari cerita Andi dan Budi
Andi menunjukan sikap kecewa yang berlebihan, tidak berusaha mencoba lagi saat gagal, malah fokus meratapi kekecewaannya dari pada fokus mencari solusi untuk menyelesaikan masalahnya.
Sedangkan Budi menunjukkan sikap yang bertanggung jawab, tidak kenal putus asa, dan fokus pada solusi, bukan fokus pada masalah.

Mau menjadi siapa dan seperti apa pribadi kita? Kita sendiri yang menentukan.

Sabtu, 03 Mei 2014

Tak Sadar Telah Pulang


Ku lirik jam yang menempel di dinding kantorku. Jam menunjukan pukul 08.00 malam, saatnya untuk pulang dan beristirahat dari pekerjaan yang sangat menyita waktuku ini.
Nada dering ponsel ku berbunyi, ternyata dari mama ku.
"Halo nak? Apa hari ini kamu pulang?"
"Iya, ini sudah di parkiran ma. Hari ini adek pulang ma. Tunggu ya."
"Iya, hati-hati ya nak."
Begitulah percakapan singkatku dengan mama ku.
aku segera menyalakan mobil ku menuju rumah orang tua ku berada. Pasti orang tua ku sudah menungguku di rumah.
Nampaknya malam ini jalanan tak begitu ramai, padahal ini adalah malam minggu. Dalam perjalanan aku memikirkan perkataan atasan ku tadi pagi. "Aku ini kurang apa lagi sebagai karyawan. Loyalitasku sudah besar pada perusahaan ini. Rela berangkat pagi pulang petang. Lalu kenapa? Kenapa atasanku selalu merasa seolah-olah aku kurang loyal dalam memberikan waktuku untuk perusahaan ini? Kenapa tadi pagi aku diomeli karena aku datang agak siang? Bukankah pulangnya sama-sama malam dan lebih dari 8jam." Gumamku dalam hati. "Loyalitas harga mati". Lamunanku buyar ketika hampir saja mobilku ditabrak truk dari depanku.
Sesampainya di rumah. Aku buka pintu garasi mobil di rumah orang tua ku. Nampaknya mobil papa ku tak ada di garasi. Aku masuk dan memanggil-manggil mereka. Mereka tak juga nampak. Lantas pergi kemana mereka? Dengan kebingungan aku segera menghubungi orang tua ku. Sialnya pulsa ku habis. Aku bertanya-tanya dalam hati "Bisa jadi orang tua ku pergi ke rumah nenek ku. Jika mereka tak ada di rumah lantas untuk apa bertanya apakah aku pulang atau tidak?"
Tiba-tiba aku mendengar suara tv. Tapi tv di rumah ku sedang mati. Lalu suara tv siapa itu? aku merasa semakin bingung. Apa yang terjadi pada ku? Aku merasa sendiri. Aneh. Seperti ada yang tinggal di rumah ini tapi aku tak bisa melihat siapa-siapa.
Tiba-tiba aku tersadar. Aku sudah berada di alam yang berbeda.
Ya. Truk tadi benar-benar membawa ku pulang selamanya.