Jumat, 18 Juli 2014

I need u God (aku kudu pie?)

Aku ingin menulis.
Tapi tanganku terasa kaku.
Pikiranku pun seperti beku.

Sejak masalah ini muncul, kata-kata seperti enggan datang kepadaku.

Karena kamu.

Ah… tidak.
Bukan begitu.

Lebih tepatnya karena aku.
Atau mungkin… karena kita.

Masalah ini seperti batu yang dijatuhkan ke dalam air.
Gelombangnya menjalar ke mana-mana.
Bukan hanya kita yang terkena dampaknya.

Orang tua ikut pusing.
Keluarga ikut memikirkan.
Seolah apa yang kita lakukan menjalar dan menyentuh banyak kehidupan.

Lalu aku harus bagaimana?

Atau mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah:
kita harus bagaimana?

Aku tahu.
Aku akui.
Ada bagian dari semua ini yang memang salahku.

Tapi tolong…
berhentilah terus menyalahkanku.

Karena menyalahkan tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun.

Mari kita cari jalan keluar.

Bukankah Allah tidak pernah memberi cobaan tanpa menyertakan jalan keluarnya?

Aku percaya itu.

Setiap ujian pasti sudah lengkap dengan jawabannya.
Hanya saja, jawaban itu tidak selalu datang dengan sendirinya.

Kadang kita harus mencarinya.
Meraba-raba dalam gelap.
Berjalan pelan meski kaki sudah mulai lelah.

Dan sekarang…
aku memang mulai lelah.

Tapi aku tidak ingin putus asa.

Namun satu pertanyaan terus berputar di kepalaku, seperti jarum yang tak berhenti:

Aku harus bagaimana?

Sementara tubuhku sendiri terasa lemah,
bahkan untuk melakukan sesuatu pun rasanya sulit.

Kadang aku berpikir aku masih bisa.
Kadang aku merasa aku sudah tidak mampu lagi.

Di tengah semua ini, satu pertanyaan lain muncul…
lebih sunyi, tapi jauh lebih menakutkan.

Apa aku sudah terlalu jauh dari-Mu, ya Allah?

Apa aku tersesat begitu jauh sampai aku tidak lagi bisa melihat jalan pulang?

Dan di tengah kebingungan ini, hanya satu kalimat yang terus terlintas di kepalaku—
kalimat sederhana, tapi penuh putus asa:

Aku kudu piye?

Aku harus bagaimana?

Kamis, 17 Juli 2014

Wanita Satu atau Dua



Aku adalah sosok wanita pencemburu.
Pada siapapun dan apapun yang dekat dengan laki-laki yang aku cinta.
Aku tidak ingin perhatian dari sosok yang siapapun aku cintai terbagi-bagi.
Bahkan aku tak pernah bisa menerima masa lalu jika dia pernah bersama wanita lain.

Suatu hari aku bertengkar dengan laki-lakiku, entah bagaimana bisa bertengkar, aku sudah lupa, yang aku ingat hanya masalah dia sayang dengan ibunya.
Saat itu aku marah luar biasa, tapi dengan sabar laki-lakiku menjelaskan.

"Kamu dan ibuku itu sosok wanita yang berbeda untukku, ibuku yang melahirkanku, yang membesarkanku hingga seperti ini, dan kamu wanita yang  tidak pernah melahirkanku."

"Jadi?" tanyaku yang masih emosi.

"Jadi aku sayang ibuku dan kamu."

"Jadi aku wanita nomor dua yang kamu cintai?"

"Bukan seperti itu sayang, mengertilah."

"Kalau bukan seperti itu seperti apa?"

"Kamu memang tidak perrnah melahirkanku, tapi kamu yang akan melahirkan anak-anakku. Kamu akan mendapatkan cinta seperti cinta yang aku miliki untuk ibuku dari anak-anak kita."

"Astagfirullah.." kataku dalam hati.

Aku hanya bisa diam merenung, mendengar jawaban dari laki-lakiku yang luar biasa ini.

Ya. Untuk apa aku juga cemburu dengan wanita yang sudah melahirkan laki-lakiku? bukankah aku akan memiliki anak darinya? yang semoga saja bakti anak-anakku sama seperti laki-lakiku berbakti dengan orang tuanya.