Selasa, 28 Januari 2014

Bayangmu yang Misterius


Terdengar suara bel berbunyi tiga kali menandakan sekolah telah usai, para siswa SMA Finansia Multifinance itu bersorak gembira.

Namun tidak dengan siswa yang bernama Hendra. Duduk di bangku paling belakang dengan kursinya yang digerak-gerakkan hingga menimbulkan suara deritan. Tampak ia sedang resah namun tangannya masih sibuk menulis.

Yoga yang tak lain adalah teman dekat sekaligus sahabat Hendra ini menghampiri Hendra dan mengajaknya pulang.

"Ayo Hen, mendung nih, yuk pulang."

"Kamu pulang duluan aja, aku masih harus menyelesaikan karanganku ini."

"Yakin nih gak mau ditungguin?"

"Yakin 100%. uda sana pulang, bikin gak konsen."

"ya udah.."

Siang itu Hendra sedang mendapat hukuman membuat karangan tentang tempat wisata, Hendra memilih topik tempat wisata yang angker di Indonesia. Karangannya tersebut membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya setiap kali dia membayangkan apa yang saat ini sedang dia tulis.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Hendra bergegas memasukkan alat tulisnya ke dalam tas ranselnya lalu segera menuju ruang guru untuk mengumpulkan karangannya, beruntung penjaga sekolah belum mengunci ruang guru.

Di depan ruang guru, Hendra menyapu seluruh sudut sekolah, tak terlihat satupun siswa yang masih berada di sekolah ini.

Nampaknya langit sudah tak kuasa menahan awan yang sudah merata dilangit.

Saat Hendra hendak melangkahkan kaki menuju gerbang sekolahnya, Hendra dikagetkan dengan munculnya sosok laki-laki bertubuh pendek, berkulit hitam, kurus tepat di depannya. Ya, tak lain dia adalah penjaga sekolah di tempat Hendra bersekolah. Banyak yang takut dengan penjaga sekolah yang biasa dipanggil mang Komir itu lantaran wajahnya yang misterius.

Dengan nada misterius mang Komir berpesan pada Hendra
"Sebaiknya hati-hati, jangan pulang lewat hutan beringin kalau ingin selamat, lewatlah jalan utama."

Dengan nada tergagap Hendra menjawab
"i-iy-iya mang Komir."

Tiba-tiba tempat sampah yang ada di depan ruang guru terjatuh, seketka Hendra langsung menengok ke arah suara tersebut.
"oh, ternyata kucing, ngagetin aja." sambil tersenyum-senyum sendiri karena berpikir ini sungguh konyol.
lalu kucing berbulu hitam pekat itupun segera pergi.

Kemudian Hendra membalikkan badan tepat dimana tadi mang Komir berdiri. Seketika bulu kuduk Hendra berdiri, ketika mang Komir sudah tak terlihat dalam pandangan mata Hendra.

"Kemana yak mang Komir? Cepat sekali tu orang pergi." kata Hendra dalam hati.

Tanpa memikirkan mang Komir lebih lama lagi, Hendra segera bergegas pulang lewat hutan karena jaraknya lebih dekat dari lewat jalan utama.

Di tengah perjalanan, gerimis mulai turun.
"Ternyata seram juga ya, berjalan di bawah pohon-pohon beringin ini sendirian di tambah hujan germis." Kata nya dalam hati.

Karena berjalan sambil melamun, Hendra merasa ada yang mengikuti dirinya.


Suara langkah kaki misterius di belakang Hendra membuat Hendra kaget dan seketika Hendra menengok kebelakang, ternyata tak ada siapa-siapa.

"Ah mungkin hanya perasaan ku saja."

Tiba-tiba Hendra teringat akan pesan mang Komir kalau dia tidak boleh lewat hutan. 

Karena sudah terlanjut lewat hutan, Hendra mempercepat jalannya menuju rumahnya. Entah mengapa perjalanan kali ini sangatlah panjang dan terasa begitu lama.

Namun, dia kembali merasakan hal yang sama. Ya, ada yang mengikutinya. Saat suara langkah kaki misterius yang mengikutinya itu terdengar jelas, dia langsung membalikkan badan ke belakang dan dia mendapati sosok bayangan misterius bersembunyi di salah satu pohon beringin yang usianya mungkin jauh lebih tua dari usianya.

Dalam hitungan detik Hendra langsung mengambil langkah seribu, ternyata sosok bayangan hitam misterius itu juga mengejarnya. Kejadian yang tak diinginkan pun terjadi, Hendra tersandung akar pohon beringin hingga terjatuh.

Hendra memberanikan diri menengok kebelakang, namun bayangan hitam itu bukan lah menjadi bayangan hitam lagi. Hendra melihat sosok wanita muda mengenakan jas hujan berwarna hitam, dengan rambut berponi, matanya bulat berwarna coklat. Wanita tersebut hanya tersenyum-senyum memandang Hendra yang saat ini sedang menatapnya dengan gemetaran.

Tak lama kemudian mang Komir datang.

Dengan nada setengah menyesal, mang Komir berkata "Saya sudah bilang jangan lewat hutan, wanita ini adalah istri muda saya, dia sedang tidak waras karena kebanyakan hutang di Kredit plus. Karena tidak waras dia jadi sering datang ke hutan ini. Memang banyak orang yang mengaku melihat sosok bayangan misterius setiap lewat sini. Tak lain bayangan misterius itu adalah istri saya sendiri. Jadi maafkan saya mas Hendra, saya sudah sering melarang istri saya kesini, tp ya orang sedang tidak waras saya tidak bisa berbuat apa-apa, sekali lagi maaf, istri saya sudah membuat mas Hendra ketakutan."

####



Tidak ada komentar:

Posting Komentar