Demi keinginan orang tuaku, terutama papa—laki-laki yang paling aku cintai di dunia ini—aku rela berada jauh dari mereka. Juga jauh dari kekasihku, untuk menjadi PNS di Kalimantan.
Namun saat ini, hatiku berbunga-bunga. Bahagia, senang, tak terkira.
Sebentar lagi pesawat yang kutumpangi akan mendarat di Pulau Jawa, tepatnya di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Itu berarti aku akan segera bertemu papa tersayang, mama tercinta, dan adik-adikku.
Dan tidak ada kebahagiaan yang lebih indah lagi, karena kali ini aku pulang bukan hanya untuk melepas rindu… tapi juga untuk menikah.
Ya. Seminggu lagi aku akan menikah dengan laki-laki kedua yang paling aku cintai di dunia ini.
Pagi itu, aku memasuki rumah kekasihku.
Rumah yang dulu sering kujadikan tempat singgah saat kuliah.
Di sinilah aku banyak menghabiskan waktu bersamanya—menjaga warnet, browsing, membaca blog, membantu menyelesaikan skripsinya, atau sekadar bercanda memperebutkan teh hangat yang kupersiapkan. Satu gelas untuk kami berdua, tapi selalu berakhir dengan tawa.
Setiap sore, aku juga sering membantu ibunya memasak di dapur, sambil tertawa bersama, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan manis yang tak terlupakan.
Ah, rasanya begitu lama kenangan itu berlalu.
Dan kini aku kembali… untuk benar-benar menjadi bagian dari keluarga itu.
Aku mengendap ke kamar kekasihku, kamar yang dulu selalu kucoba rapikan untuknya.
Suasana pagi sepi. Sepertinya kekasihku sedang memberi makan ayamnya.
Tiba-tiba terdengar isak tangis dari dapur. Aku menoleh, melihat ibu kekasihku sedang serius mengiris bawang.
Aku tersenyum kecil, “Ibu ini… mengiris bawang saja sampai menangis.”
Nampaknya ia tak menyadari kehadiranku.
Aku masuk ke kamar, berniat mengejutkan kekasihku dengan membuat kamarnya rapi seperti dulu.
Tak sengaja, mataku menangkap secarik kertas kumal di meja. Kupungut dan kubaca:
*"Sayang…
Kamu pasti tahu, aku tak pernah pandai menulis. Tak pandai merangkai kata indah. Bukan berarti aku tak sayang, hanya saja aku tak ingin bersikap menye-menye. Aku ingin menjadi lelaki kuat untukmu.
Tapi kali ini… aku mau sedikit menye-menye untukmu. Ya, hanya untukmu. Bahkan ini yang pertama dan terakhir kalinya aku menye-menye. Aku janji, hanya untukmu.
Sayang… aku sangat merindukanmu. Kata itu jarang kuucapkan padamu, tapi sebenarnya setiap detik aku merindukanmu. Aku hanya memilih diam, menikmati kerinduan yang semakin tak terbendung.
Aku merindukan manjamu, sayangku. Aku merindukan saat kau meminta sesuatu dengan suara manja yang tak bisa kuabaikan. Aku merindukan sosokmu yang selalu bisa kuandalkan, yang cerewet, yang selalu berhasil membuatku tertawa. Aku merindukanmu menangis dalam pelukanku, merindukan saat menemanimu sampai tertidur.
Aku merindukan candamu, nasehatmu ketika aku terpuruk, saat aku jatuh, putus asa, dan kamu selalu ada untuk menguatkanku.
Sayang… tak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, sampai aku berhenti bernapas. Aku akan terus menjaga diri untukmu, hingga kita bertemu, dimanapun kau berada.
Seandainya aku bisa lebih lama bersamamu… aku janji akan membahagiakanmu seumur hidupku.
Apakah semuanya terlambat? Seandainya bisa bertanya… apakah aku sudah cukup membahagiakanmu selama hidupmu?"*
Air mata menetes membasahi pipiku.
Aku segera mencari kertas dan bolpoint, menulis balasan dengan hati penuh haru:
"Sayang… aku sangat bersyukur memiliki laki-laki sepertimu.
Bersamamu, aku bahagia—bahagia yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
Terima kasih, sayang. Aku akan membawa cinta ini hingga akhir nafasku."
Kutaruh surat itu di meja dekat tempat tidurnya.
Tangisku terhenti ketika terdengar suara TV menyala di ruang keluarga.
Ternyata adik kekasihku menyalakannya.
Aku melihat fotoku bersama kekasihku di bingkai coklat di bufet, menatapnya lama… dan tersenyum.
Namun tiba-tiba, adiknya berteriak memanggil anggota keluarga lain.
Aku mencoba sembunyi di samping bufet, tapi tanpa sengaja… bingkai foto itu jatuh.
Acara berita di TV menayangkan kabar kecelakaan pesawat, yang kebetulan adalah pesawat yang kutumpangi kemarin.
Semua mata tertuju pada pecahan bingkai dan foto itu.
Calon ibu mertua ku memungut pecahan kaca sambil menangis.
Aku menatap calon suamiku… ia hanya menunduk lesu, raut wajahnya penuh kesedihan.
Aku memanggil mereka… calon ibu mertua, calon suamiku, calon adik iparku… tapi tak seorang pun bisa mendengarku.
Tak seorang pun bisa melihatku.
Ruangan terasa dingin, gelap, dan hampa.
Namun satu hal yang pasti…
Sayangku untuk calon suamiku, keluargaku, dan keluarga calon suamiku… takkan pernah pudar.
Aku menyayangi kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar