Rabu, 02 Oktober 2013

Benci



“Yah… wajar kalau dia marah padaku.”

Kalimat itu selalu kuucapkan pada diriku sendiri setiap kali aku tidak habis pikir—hanya karena hal kecil, ia bisa begitu marah kepadaku.

Aku mencoba memakluminya.

“Mungkin memang semua ini salahku.”

Lagi-lagi aku berkata begitu dalam hati, sekadar untuk meredam rasa benci yang mulai tumbuh.

Namun tetap saja, sebuah pertanyaan terus berputar di kepalaku.

Bagaimana bisa dia membenciku sedemikian rupa?

Ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa aku dibenci seperti ini membuat hatiku sakit.

Kadang muncul keinginan untuk membalasnya dengan kebencian yang sama.
Namun di saat yang sama, hatiku pun tak kuasa menahan rasa itu.

Dan aku sadar…
membalas kebencian dengan kebencian hanyalah menambah dosa.

Bukankah tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini?

Begitu juga denganku.

Selasa, 01 Oktober 2013

Dia yang Manis


Minggu-minggu ini benar-benar padat.
Tugas kuliah menumpuk, membuatku terpaksa pergi ke warnet dekat kost-ku.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi.
Rasa kantuk yang menggelayut membuatku ingin segera kembali ke kamar.
Aku melangkah menuju server, membayangkan indahnya singgasana tempat biasanya aku merebahkan diri.

Langkahku terhuyung-huyung, lelah bercampur kantuk.
Hampir saja aku tersandung kaki seorang pria yang sedang tertidur pulas di depan pintu dekat server.
Sepertinya… dialah pemilik warnet ini.

Aku menatapnya, heran—betapa beraninya seseorang tidur di jalanan.
Tapi semakin lama mataku memandang wajahnya, rasa ingin membangunkannya lenyap.
Aku tak tega mengusik tidur lelapnya.
Biarlah ia menikmati mimpi indahnya, melepaskan rasa lelah yang begitu jelas terpancar dari raut wajahnya.

Entah berapa lama aku berdiri, terpaku memandangnya.
Semakin lama, semakin terasa… wajahnya manis.
Rambut hitamnya acak-acakan, kantung mata di bawah matanya menandakan betapa lelahnya ia.
Dan entah kenapa, setiap detil kecil itu membuatku berpikir, ia terlihat semakin menawan.

Rasa kantuk akhirnya membuat lamunan itu buyar.
Aku melangkah membuka pintu warnet, menghirup udara malam yang sejuk.
Langkahku ringan, damai… menyusuri jalan pulang menuju kost.

Sesampainya di kamar, aku mencoba memejamkan mata.
Namun sosok laki-laki tadi terus terlintas di benakku.

“Apakah aku bermimpi?” gumamku dalam hati.

Aku berdiri, berjalan menuju gambar manga yang kugambar sendiri di dinding kamar.
Menyentuh beberapa bagian yang kukira mirip dengan wajahnya, aku berbisik pelan,
“Apakah kamu semanis ini? Kurasa tidak… hanya beberapa bagian saja yang mirip denganmu.”

Dan sejenak… aku tersenyum sendiri, memikirkan pria yang entah bagaimana berhasil meninggalkan kesan begitu dalam di pikiranku.