Minggu, 01 Desember 2013

Kali Mertua


“Ya… sekarang tak ada lagi yang mengganggu hubungan kita,” kataku dalam hati dengan perasaan girang.

Namun kegembiraan itu tak bertahan lama.

Selang sehari, kabar menghebohkan melanda Kampung Baskoro.
Ibu dari kekasihku, Farid, menghilang.

Farid dan keluarganya kebingungan. Mereka mencari ke mana-mana sosok wanita berambut panjang yang tampak lima tahun lebih muda dari usianya—wanita yang biasa ia panggil mamak.

Seluruh warga Baskoro ikut membantu pencarian itu.
Mereka menyisir jalan, kebun, bahkan tepian kali.

Namun wanita itu tak juga ditemukan.

Dan aku… tiba-tiba teringat pada malam itu.

Malam ketika langit tampak hitam pekat.
Mendung menutupi indahnya langit, sementara kabut tebal menyelimuti bumi. Bahkan bulan dan bintang pun seakan enggan menampakkan diri.

Dengan langkah pelan, setengah mengendap-endap, aku menyelinap masuk ke rumah kekasihku, Farid, melalui loteng tanpa pintu itu.

Aku mengamati keadaan sekitar.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki.

Dalam cahaya lampu yang remang-remang, tampak sesosok wanita dengan rambut panjang terurai.

Ya… wanita itu.

Wanita yang tidak pernah merestui hubunganku dengan Farid.

Tanpa banyak berpikir, aku bergerak cepat.
Aku membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah kuolesi minyak pembius.

Tubuhnya meronta sebentar, lalu perlahan melemah.

Ia terjatuh di dapur, tepat di dekat tangga menuju loteng.

Aku segera memasukkannya ke dalam karung beras yang sudah kupersiapkan dari rumah.

Tubuhnya masih tampak indah, meskipun ia telah melahirkan empat anak—termasuk melahirkan orang yang paling kucintai: Farid.

Dengan susah payah aku menyeret karung itu keluar rumah.

Tiba-tiba hujan turun membasahi tanah Baskoro.

Petir menyambar di langit, suaranya bergemuruh seperti alunan lagu sendu yang mengiringi langkahku menuju tepian kali.

Aku berhenti.

Perlahan aku membuka karung itu dan menatap wajahnya.

Wajah yang tetap terlihat ayu meskipun kini tak berdaya.

“Terima kasih,” bisikku pelan.

Terima kasih karena telah melahirkan lelaki terindah dalam hidupku.

Namun di saat yang sama, tatapan mataku penuh kebencian.

Karena engkau tidak pernah merestui kami, Ibu.

Padahal sebentar lagi… engkau akan dipanggil nenek.

Buah cintaku dengan Farid kini telah berusia hampir tiga bulan di dalam perutku.

“Selamat jalan,” kataku pelan.

Selamat jalan, nenek dari anak yang sedang kukandung.

Dengan satu dorongan, aku melemparkan tubuhnya ke dalam kali yang gelap.

Semua ini kulakukan karena dirimu selalu menghalangi Farid—ayah dari anak yang ada di dalam kandunganku—untuk pergi ke perantauan

Pergi mencari kehidupan yang lebih tenang.

Kehidupan yang bebas…
dari bayang-bayangmu.

Rabu, 02 Oktober 2013

Benci



“Yah… wajar kalau dia marah padaku.”

Kalimat itu selalu kuucapkan pada diriku sendiri setiap kali aku tidak habis pikir—hanya karena hal kecil, ia bisa begitu marah kepadaku.

Aku mencoba memakluminya.

“Mungkin memang semua ini salahku.”

Lagi-lagi aku berkata begitu dalam hati, sekadar untuk meredam rasa benci yang mulai tumbuh.

Namun tetap saja, sebuah pertanyaan terus berputar di kepalaku.

Bagaimana bisa dia membenciku sedemikian rupa?

Ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa aku dibenci seperti ini membuat hatiku sakit.

Kadang muncul keinginan untuk membalasnya dengan kebencian yang sama.
Namun di saat yang sama, hatiku pun tak kuasa menahan rasa itu.

Dan aku sadar…
membalas kebencian dengan kebencian hanyalah menambah dosa.

Bukankah tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini?

Begitu juga denganku.

Selasa, 01 Oktober 2013

Dia yang Manis


Minggu-minggu ini benar-benar padat.
Tugas kuliah menumpuk, membuatku terpaksa pergi ke warnet dekat kost-ku.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi.
Rasa kantuk yang menggelayut membuatku ingin segera kembali ke kamar.
Aku melangkah menuju server, membayangkan indahnya singgasana tempat biasanya aku merebahkan diri.

Langkahku terhuyung-huyung, lelah bercampur kantuk.
Hampir saja aku tersandung kaki seorang pria yang sedang tertidur pulas di depan pintu dekat server.
Sepertinya… dialah pemilik warnet ini.

Aku menatapnya, heran—betapa beraninya seseorang tidur di jalanan.
Tapi semakin lama mataku memandang wajahnya, rasa ingin membangunkannya lenyap.
Aku tak tega mengusik tidur lelapnya.
Biarlah ia menikmati mimpi indahnya, melepaskan rasa lelah yang begitu jelas terpancar dari raut wajahnya.

Entah berapa lama aku berdiri, terpaku memandangnya.
Semakin lama, semakin terasa… wajahnya manis.
Rambut hitamnya acak-acakan, kantung mata di bawah matanya menandakan betapa lelahnya ia.
Dan entah kenapa, setiap detil kecil itu membuatku berpikir, ia terlihat semakin menawan.

Rasa kantuk akhirnya membuat lamunan itu buyar.
Aku melangkah membuka pintu warnet, menghirup udara malam yang sejuk.
Langkahku ringan, damai… menyusuri jalan pulang menuju kost.

Sesampainya di kamar, aku mencoba memejamkan mata.
Namun sosok laki-laki tadi terus terlintas di benakku.

“Apakah aku bermimpi?” gumamku dalam hati.

Aku berdiri, berjalan menuju gambar manga yang kugambar sendiri di dinding kamar.
Menyentuh beberapa bagian yang kukira mirip dengan wajahnya, aku berbisik pelan,
“Apakah kamu semanis ini? Kurasa tidak… hanya beberapa bagian saja yang mirip denganmu.”

Dan sejenak… aku tersenyum sendiri, memikirkan pria yang entah bagaimana berhasil meninggalkan kesan begitu dalam di pikiranku.