Sendirian dan kesepian adalah makanan sehari-hari lelaki itu. Besok adalah hari ulang tahunnya yang ke tiga puluh.
"Tuhan, umurku kian bertambah, namun aku masih sendiri. Tuhan yang Maha Baik. Aku sangat berharap Engkau memberikanku seorang wanita. Tuhan, berikanlah aku pendamping hidup yang setia, yang bisa menjadi penyemangatku untuk bekerja, dan setia menungguku di rumah kala aku tak ada disampingnya. Tuhan yang Baik, berikanlah wanita terbaik untukku di usiaku yang sudah matang ini." Doa lelaki itu saat merayakan ulang tahunnya, tentunya dia merayakannya sendirian.
Di sudut stasiun lelaki itu duduk, mengenakan jas abu-abu, dia sedang menunggu kereta, alat transportasi yang sudah bertahun-tahun ia gunakan untuk pulang kerja.
Seorang anak perempuan yang usianya sekitar tujuh tahun berpakaian lusuh menghampiri lelaki itu menawarkan kacamata yang dia jual.
"Kacamatanya pak, harganya lima belas ribu." Kata anak perempuan itu tadi.
Sebenarnya lelaki itu tidak membutuhkannya. Tapi dia tetap membeli kacamata itu. Bingkai dan kacanya berkacamata coklat.
"Kembaliannya untuk kamu saja." Kata lelaki itu.
Sesampainya di rumah, dia merebahkan diri di tempat tidur yang biasa dia tiduri, matanya menuju layar tv yang ada di depan tempat tidurnya itu, dia mengganti-ganti chanel stasiun tv, sepertinya acaranya tidak ada yang menarik. Tiba-tiba lelaki itu teringat akan kacamata yang telah dia beli di stasiun tadi.
Dia mencari kacamata coklat itu sambil bergumam "coba ada wanitaku yang selalu menyambutku dengan secangkir teh hangat ataupun coklat hangat saat aku lelah pulang dari kantor."
Lalu dicobanya kacamata tersebut.
"Kenapa terang sekali memakai kacamata ini. Bukankah kacanya berwarna coklat, kenapa jika di pakai tak ada efek warna coklat?" Dengan perasaan heran lelaki itu segera duduk di depan cerminnya.
"Keren juga."
Lelaki itu menyapu pandangannya ke semua arah sudut kamar tidurnya, namun betapa terkejutnya ketika dia mendapati seorang wanita memakai lingery merah di atas ranjangnya.
Dengan tergagap lelaki itu bertanya, "si-siapa kamu?"
Wanita itu menjawab pertanyaan lelaki tersebut hanya dengan senyuman genit.
Lelaki itu segera melepaskan kacamatanya, dia melihat ke arah tempat tidur tersebut, namun wanita itu sudah tak ada di sana. Dia memberanikan diri memakai kacamata itu lagi untuk melihat wanita itu.
Ya. Wanita itu masih berada di tempat tidurnya. Bahkan wanita itu memanggil lelaki tersebut dengan suara mendesah.
"Mas, kemarilah."
Ketika lelaki itu melepaskan kacamatanya, dia tidak bisa melihat wanita tersebut.
Akhirnya dia sadar bahwa wanita tersebut hanya bisa dia lihat dengan kacamata coklat yang dia beli di stasiun tadi pagi.
"Terimakasih Tuhan, telah mengirimkanku wanita dalam kacamata."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar