Senin, 19 Mei 2014

Kehadiranku (Tak) Merubah Hidupmu

Jam menunjukkan pukul 23.33

Lelaki itu sedang sibuk menata kamarnya, mengganti dengan seprai warna putih sekaligus sarung bantalnya. Lalu menyalakan lilin yang mengitari ranjangnya dan menaburkan bunga mawar merah di ranjangnya.

"Akhirnya selesai juga.." Lelaki itu bergumam.

Kamarnya menjadi nampak seperti kamar pengantin baru, yang telah dia siapkan untuk wanitanya yang akan menemuinya tepat pukul 00.00 malam ini.

Sambil menunggu wanitanya yang hanya dia temui seminggu sekali, setiap hari selasa, lelaki itu duduk di meja rias istrinya. Tanpa sengaja dia menemukan sebuah amplop merah muda yang ada di meja rias istrinya itu. Lalu lelaki itu segera membuka isi amplop tersebut. Ternyata amplop merah muda tersebut berisikan surat cinta dari istrinya. Dengan rasa penasaran, lelaki itu membaca surat dari istrinya tersebut.

"Aku hanya seorang aku.
Walau sudah berusaha selalu membuatmu bahagia berada di dekatku, itu tak pernah berpengaruh apapun di hidupmu.

Aku hanyalah seorang aku.
Wanita berparas biasa saja. Dengan paras seperti ini, bagaimana bisa aku membahagiakanmu?

Aku Hanyalah seorang aku.
Berusaha memberikan sesuatu untukmu. Namun tak pernah kau anggap ada.

Aku hanyalah seorang aku.
Wanita miskin, yang bekerja sebagai karyawan biasa dan tak mampu mencukupi kebutuhanmu.

Aku hanyalah seorang aku.
Wanita yang selalu mencintaimu dan tak pernah menuntut apapun darimu, untuk bisa membuatmu tersenyum di sampingku.

Ya. Aku hanyalah seorang aku.
Wanita yang tak akan pernah bisa membuatmu bahagia dengan sedikit uang yang aku miliki.

Bahkan jika ada pilihan uang atau aku, pastilah kamu lebih memilih uang dari pada aku.
Menurutmu wanita bisa di dapatkan dengan uang. Sedangkan aku wanitamu ini tak bisa menghasilkan uang yang cukup untukmu.

Uang lebih bisa membahagiakanmu dari pada aku."



Jam berdentang dua belas kali, lampu meredup dengan sendirinya. Kini hanya ada cahaya lilin yang menerangi kamar itu. Harum bunga jasmine mulai tercium oleh lelaki tersebut. Wanita yang ditunggu-tunggu telah datang memasuki kamar yang seperti kamar pengantin tadi.

Parasnya sangatlah cantik seperti bidadari yang turun dari kayangan, tubuhnya padat berisi, kulitnya putih mulus bersih, rambutnya terurai panjang berbando rangkaian bunga melati. Tubuh wanita itu hanya dibalut oleh selembar kain berwarna hijau transparan.

Dengan genit wanita itu memanggil lelaki yang sedari tadi nampaknya sedang melamun di depan meja rias. Suaranya mendesah. Kedipan matanya nakal. Dadanya membusung dari balik kain berwarna hijau transparan tersebut dengan sengaja.

Setelah itu napas mereka saling memburu ketika bibir mereka saling berpagutan. Tanpa sadar tubuh lelaki itu sudah menindih wanitanya. Tiba-tiba lelaki itu menghentikan adegan tersebut. Tubuhnya dihempaskan ke sebelah wanita itu. Perlahan nafsunya tampak memudar. Wanita cantik yang telah memberinya kekayaan itu mencoba menggoda lelaki itu lagi. Namun lelaki itu tak bergeming. Hanya tatapan kosong entah apa yang dia lihat. Tanpa sadar lelaki itu menitikkan air matanya. Ya, karena surat cinta dari istrinya yang kini telah tiada.

Lelaki itu menyesal telah menjadikan istrinya tumbal pertama untuk dipersembahkan kepada wanitanya, lalu menukarnya dengan kekayaan yang dia miliki saat ini.

"Semuanya sudah terlambat. Aku telah membuat perjanjian dengan iblis wanita itu tiga bulan yang lalu. Kini aku tak bisa lepas darinya. Maafkan aku istriku."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar