Aku mengenalmu… bukan hanya sebagai lelaki dewasa, tapi sebagai sosok yang mampu menenangkan hatiku meski dunia gaduh.
Kamu bukan orang yang mudah meledak, bukan pula yang menciptakan drama berlebihan.
Ketika kesalahan terjadi, kamu tak pernah menyalahkanku—malah kamu yang menanggung rasa bersalah itu sendiri.
Saat dunia membuatku gemetar, saat aku rapuh, kamu mampu menenangkan dirimu sendiri… dan menenangkan aku.
Aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang bisa menenangkan orang lain, padahal hatimu sendiri bergetar hebat.
Denganmu, aku merasa nyaman.
Denganmu, aku merasa aman.
Kamu mengajakku berdiskusi saat aku tidak bisa berhenti menangis, bukan menghindar atau meninggalkanku sendiri.
Kamu lelaki yang tak pernah memaksakan kehendak, tak pernah membuatku merasa bersalah ketika aku berkata “tidak”.
Kehadiranmu selalu terasa seperti ruang aman, di mana aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa takut dihakimi.
Kamu tahu, janji hanya berarti jika bisa ditepati… dan kamu tak pernah berjanji sembarangan.
Kamu bahkan suka membuatku cemburu, dengan cara yang lucu dan hangat.
Dan di antara semua itu… kamu memberikan perhatian yang tulus, membuatku merasa dikasihi tanpa harus bertanya.
Aku berharap, suatu hari nanti aku bisa kembali bertemu denganmu…
Dengan kamu yang aku kenal, yang pernah mengisi hari-hariku dengan ketenangan dan kasih.
Aku percaya, kamu cukup utuh, cukup kuat, dan mampu sembuh… mampu kembali menjadi dirimu yang aku kenal.