Minggu, 04 Mei 2014

Menghadapi Masalah


Bagaimana cara kita menghadapi suatu permasalahan akan sangat berpengaruh pada kehidupan kita pada masa mendatang.

Saya memiliki dua orang teman sebut saja si Andi dan si Budi yang saat itu bekerja disuatu perusahaan yang sedang berkembang. Mereka dijanjikan gaji yang cukup dari managernya. Sehingga mereka berduapun menyanggupi dan mau bekerja di perusahaan tersebut.

Satu bulan pun terlewati, tiba saatnya mereka menerima gaji atas kerja mereka selama satu bulan.
Ternyata gaji yang mereka terima tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh manager perusahaan tersebut, bahkan jauh lebih rendah dari yang dijanjikan. Mereka hanya menerima 30% dari apa yang sudah dijanjikan oleh manager perusahaan tersebut.

Mereka berdua sebenarnya ingin sekali menghadap kepada BMnya dan menanyakan kenapa gajinya tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh managernya, berhubung tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa managernya itu pernah menjanjikan gaji yang lebih tinggi dari yang diterima, maka pertanyaan tersebut diurungkan.

Setelah kejadian tersebut, mereka berdua sangat kecewa dengan managernya yang tidak menepati janji dan akhirnya memutuskan untuk resign dari perusahaan tersebut.

Saat itu si Andi sangat down, ditambah lagi dengan kondisi keuangan yang minus. "Aku memang bodoh, bisa tertipu, aku malu dengan orang tua ku yang menyekolahkan ku hingga sarjana namun aku masih belum bisa apa-apa, menghidupi diri sendiri saja susah, apa lagi membahagiakan mereka," gumam Andi dalam hati.Setelah itu Andi memutuskan untuk berdiam diri di rumah. Kejadian tersebut membuat dia murung dan kehilangan semangat mencari pekerjaan yang baru hingga kejadian tersebut berlanjut selama berminggu-minggu. Andi sudah merasa putus asa.

Tidak jauh berbeda dengan Andi, Budi pun kecewa dengan apa yang sudah dia alami. Namun tindakan mereka berbeda. "Mungkin saja kali ini memang saya tidak beruntung, pasti ada hikmah dibalik semua ini, saya harus berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik lagi," gumam Budi dalam hati. Untuk menghadapi kegalauannya, dengan semangat tak kenal putus asa Andi membuat sepuluh lamaran pekerjaan kepada sepuluh perusahaan, dengan persentase tiga penipuan, empat ditolak, dan tiga interview panggilan kerja. Setidaknya ada harapan satu dari tiga interview yang diterima.

Memang ada perbedaan yang mencolok dari cerita Andi dan Budi
Andi menunjukan sikap kecewa yang berlebihan, tidak berusaha mencoba lagi saat gagal, malah fokus meratapi kekecewaannya dari pada fokus mencari solusi untuk menyelesaikan masalahnya.
Sedangkan Budi menunjukkan sikap yang bertanggung jawab, tidak kenal putus asa, dan fokus pada solusi, bukan fokus pada masalah.

Mau menjadi siapa dan seperti apa pribadi kita? Kita sendiri yang menentukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar