Aku termasuk orang yang sulit mempercayai seorang lelaki dalam hal cinta.
Seringkali aku bertanya-tanya pada diri sendiri: apa sebenarnya cinta itu?
Dan, apakah suamiku benar-benar mencintaiku?
Jika memang mencintaiku… apa bedanya aku dengan wanita-wanita lain yang pernah ia rayu sebelum aku?
Pertanyaan-pertanyaan itu sudah berkali-kali muncul dalam benakku sejak pertama kali mengenal lelaki yang kini menjadi suamiku—tentunya, sebelum ada ikatan pernikahan yang sah menurut agama dan negara.
Sejak saat itu, aku menjadi seorang “kepoer” sejati, selalu ingin tahu bagaimana suamiku memperlakukan wanita sebelum aku.
Awalnya, dengan sedikit pancingan pertanyaan, ia bercerita—mudah, jujur, tanpa ragu—tentang bagaimana ia berinteraksi dengan wanita sebelum aku.
Dari semua ceritanya, aku menyimpulkan satu hal: suamiku ini adalah sosok yang… suka merayu.
Merayu lewat telepon, atau sekadar chat. Lalu menghilang, datang kembali sesuka hati.
Bukan dengan pertemuan langsung, hanya sebatas dunia digital itu saja.
Yang kurasakan bukanlah takut ditinggalkan, seperti wanita lain.
Justru sebaliknya. Aku merasa tertantang.
Aku bertekad: aku harus mendapatkan perlakuan yang berbeda, perlakuan yang tak pernah wanita-wanita sebelumnya rasakan.
Mungkin karena tekad itu aku jadi sedikit menyebalkan.
Aku meminta waktunya setiap hari, tak peduli seberapa sibuk ia.
Aku menjadi egois, menuntut lebih dari yang pernah ia berikan pada wanita lain.
Bukan hanya soal waktu, tapi juga tentang perhatian, kehadiran—semua hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan.
Dan aku… berusaha mendapatkan semuanya dengan segala cara.
Ini adalah aku yang penuh dengan ambisi.