Minggu, 25 Mei 2014

Ci(n)ta Monyet

“KITA PUTUS!!!”

Hanya dua kata.
Dikirim lewat pesan singkat, bertahun-tahun yang lalu.

Aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi sebelum pesan itu kukirim.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada drama yang berarti.

Tiba-tiba saja aku mengetik dua kata itu—
lalu mengirimkannya.

Untuk Randy.

Bukan Randy Pangalila. Bukan.
Hanya Randy biasa.
Mantan pacarku waktu SMA.

Pesannya singkat.
Hubungan kami pun tak kalah singkat.

Sejujurnya aku bahkan tidak ingat berapa lama kami berpacaran.
Apakah beberapa minggu?
Beberapa bulan?

Yang jelas, saat itu aku masih duduk di kelas satu SMA.

Di SMA Negeri 3 Demak, sekolah yang sampai sekarang masih kusebut sebagai salah satu tempat paling berkesan dalam hidupku.

Seperti kebanyakan orang yang selalu berkata, “masa SMA adalah masa paling indah,” aku pun merasakannya.

Di sana ada tawa.
Ada teman-teman yang terasa seperti keluarga.
Ada cerita-cerita konyol yang sampai sekarang masih bisa membuatku tersenyum saat mengingatnya.

Dan tentu saja… ada cinta.

Cinta yang orang-orang sering sebut sebagai cinta monyet.

Entah cintaku yang cinta monyet, atau cintanya yang cinta monyet.
Yang jelas satu hal yang aku tahu pasti: wajahku dan wajahnya sama sekali tidak mirip monyet.


Setelah pesan “PUTUS” itu kukirim, semuanya berubah.

Dia tidak pernah lagi membalas pesan-pesanku.

Bahkan ketika dia berjalan melewati depan kelasku, sapaku tak lagi mendapat jawaban.

Sejak saat itu…
kami berhenti berbicara.

Benar-benar berhenti.

Waktu berjalan cepat.

Tanpa terasa kami sampai di kelas tiga SMA.
Dan entah bagaimana, takdir mempertemukan kami lagi di kelas yang sama.

XII.IS.4.

Satu kelas.
Satu ruangan.
Hampir setiap hari bertemu.

Tapi tidak pernah benar-benar bertemu.

Kami seperti dua orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama.
Tak ada sapaan.
Tak ada percakapan.
Tak ada apa-apa.

Hanya diam.

Tahun-tahun berlalu.

Sekarang kejadian itu sudah terasa sangat lama.
Namun anehnya, jarak di antara kami masih tetap sama.

Bahkan saat reuni kelas.

Orang-orang saling tertawa, berpelukan, berjabat tangan, bernostalgia tentang masa SMA.

Aku melihatnya di sana.

Dan kami tetap… tidak saling menyapa.

Untuk sekadar berjabat tangan pun tidak.

Sebenarnya aku ingin memulai.

Ingin berkata, “Hai.”
Atau mungkin hanya tersenyum saja.

Tapi bayangan dicuekin di depan banyak orang rasanya terlalu memalukan.

Jadi aku memilih diam.

Pernah suatu hari aku iseng mencari namanya di media sosial.
Aku menemukan akunnya.

Dengan sedikit ragu, aku mengirim permintaan pertemanan.

Aku menunggu.

Sehari.
Dua hari.
Seminggu.

Tidak ada respon.

Permintaan itu tetap menggantung…
tanpa pernah diterima.

Sejak saat itu aku mulai mengerti sesuatu.

Mungkin dua kata yang pernah kukirimkan bertahun-tahun lalu benar-benar menghapusku dari hidupnya.

Seolah-olah aku tidak pernah ada.

Seolah-olah aku sudah lama hilang dari dunia.

Padahal sebenarnya…
aku masih di sini.

Masih hidup.
Masih ada.

Hanya saja…
tidak lagi ada di dalam dunianya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar