Hari ini adalah hari pertama ku pulang ke rumah setelah berbulan-bulan lamanya aku berada di rumah sakit. Yang aku sendiri tak tau apa penyakit yang aku derita hingga lama sekali aku berada di rumah sakit. Aku sangat bahagia bisa melihat rumah dimana tempat aku dibesarkan dahulu. Tak ada yang lebih membahagiakan dari sambutan kedua orang tuaku, serta adik perempuan ku satu-satunya.
"Sepertinya keluarga kita bertambah?" tanya ku pada mama ku.
"Dia adalah pembantu kita yang baru. Dia tinggal disini untuk mengurus rumah kita. Mama kewalahan sayang."
Akupun mengabaikan jawaban mama lalu segera menuju kamarku, tempat biasa aku merebahkan diri dan tempat favorit ku di rumah. Adik ku mengikutiku.
"Sudah berapa lama wanita itu tinggal di rumah kita?" Tanya ku kepada adik ku.
"Baru tiga bulan kak? Kenapa? kakak tidak suka ya? Aku juga."
"Kenapa kamu tidak menyukainya?"
"Karena dia sering menyiksa ku ketika mama dan papa tak ada di rumah. Dia juga seolah-olah ingin merebut perhatian papa dari mama."
"Benarkah? Seharusnya kita segera mengusirnya dari rumah."
Keesokan harinya, ketika orang tua ku semua bekerja. Pembantu yang ada di rumah ku membuatkan aku segelas susu. Saat aku aku akan meminumnya, adikku melarang ku meminum susu tersebut.
"Susu itu sudah diberi racun, jangan diminum." Bisik adikku.
"Benarkah? kalau begitu aku akan minum yang lainnya saja."
Aku menuju kulkas untuk mengambil minuman lain, namun saat aku membuka kulkas, adikku berteriak kencang sekali. Aku melihatnya berada di kursi dapur dengan tangan terikat dan mulutnya dipenuhi roti. Aku segera menolongnya.
"Siapa yang melakukan ini padamu sayang?" Tanya ku dengan penuh kepanikan.
"Wanita itu yang melakukannya karena telah memberi tahumu tentang susu yang telah dia buat untukmu." Jawabnya dengan tangis yang terisak.
Aku segera menenangkannya dan mengajaknya ke kamarku.
"Seharusnya kita bisa membuat dia pergi dari rumah ini." Kata ku kepada adikku.
"Bagaimana caranya?"
"Kita beritahu papa dan mama."
Sore telah tiba, aku berusaha memberitahu orang tua ku, pembantu itu berusaha menyakiti ku dengan susu yang beracun, namun mereka tak percaya malah akan meninggalkan ku ke acara pernikahan teman mereka.
Sebelum orang tua ku berangkat ke acara pernikahan teman mereka, aku dan adik ku merebahkan diri di ranjang biasa orang tua ku tidur sambil mengamati ibu ku yang masih sibuk dandan di depan cermin sambil memakai gaunnya.
Tiba-tiba mama ku berteriak kegatalan, gaun yang dipakai mama ku terdapat sarang semut.
"Pasti wanita itu yang membuat baju mama menjadi sarang semut" kata adikku.
"Ya, benar, pasti wanita itu ma yang telah meletakkan semut-semut itu, dia ingin mencelakai mama karena ingin mendapatkan papa." Aku mengulang kata-kata adikku.
Walau mama ku tidak jadi berangkat ke pesta pernikahan temannya, hanya papa yang berangkat, tapi mama ku masih tak mempercayai bahwa yang meletakkan semut-semut itu adalah pembantu itu.
Aku kembali ke kamar ku, mencari cara lain untuk mengusir pembantu itu pergi dari sini.
Tiba-tiba adik ku memberitahuku bahwa dia melihat pembantu itu membawa air panas ke dalam kamar mama untuk disiramkan ke muka mama agar mama ku yang masih cantik terlihat jelek.
Aku segera ke kamar mama untuk menolong mama, namun pembantu tersebut berhasil menangkapku, lalu menyekapku di dalam kamar ku. Aku dengar adik ku berteriak-teriak ketakutan, sepertinya dia sedang di kejar-kejar pembantu itu. Aku pun berusaha melepaskan ikatan tali yang melilit di tangan dan di tubuhku. saat aku berhasil meloloskan diri, aku tak mendengar suara apapun, aku hanya melihat darah di lantai menuju kamar pembantu ku. Aku sangat mengkhawatirkan adikku.
Setelah tiba di kamar pembantuku, aku berteriak melihat mayat pembantu itu.
"Maafkan aku kak, melakukan ini, aku hanya ingin menyelamatkan keluarga kita" Kata adikku sambil menangis.
Aku segera memeluk adik ku.
"Tak apa, jangan takut, aku akan melindungimu" Aku berusaha menenangkan adikku.
Tiba-tiba di pintu mama ku berteriak sejadi-jadinya tepat saat papa ku pulang dari pesta pernikahan temannya. Aku hanya menatap mama ku sambil memegang erat tangan adik ku yang bersimbah darah.
"Apa yang kamu lakukan dengan pembantu kita?" kata papa ku setengah berteriak.
"Aku tidak melakukan apa-apa, hanya saja adik ingin menyelamatkan keluarga kita dari pembantu jahat ini."
"Apa katamu?" Kali ini papa benar-benar membentak ku.
"Benar pa, aku tidak melakukannya, yang melakukannya adik, dia menyelamatkan kita" Semakin erat tangan ku menggenggam tangan adik ku.
Namun papa menjawab,
"Adikmu sudah meninggal satu tahun yang lalu!"
Aku segera menengok ke samping tepat dimana adik ku berdiri. Namun dia tak ada.
Sambil menangis aku memanggil-manggil adik ku.
"Sepertinya dia belum benar-benar sembuh" kata mama ku kepada papa ku dalam isak tangisnya.
Lalu tangan siapa yang aku genggam?
Yang ada hanya sebilah pisau dalam genggaman ku.
####
Tidak ada komentar:
Posting Komentar