Sepanjang hidupku, ada satu hal yang selalu kupercaya: Tuhan tidak pernah mengecewakan doaku.
Aku pernah menjadi orang yang sangat ambisius.
Orang yang yakin bahwa apa pun yang kuinginkan pada akhirnya akan menjadi milikku.
Bukan karena dunia begitu baik padaku, tapi karena aku tidak pernah tahu cara menyerah pada keinginan.
Lalu waktu berjalan.
Usia mengajariku banyak hal.
Aku belajar meredam ambisi.
Belajar menurunkan harapan.
Belajar hidup dengan keinginan yang lebih sedikit.
Hari demi hari kulalui seperti orang yang berjalan di jalan panjang tanpa tujuan—membawa beban, menghadapi kesulitan, tapi terus berkata pada diri sendiri bahwa semua ini bukan apa-apa. Bahwa aku pasti bisa melewatinya.
Tapi yang tidak pernah kuakui adalah:
hari-hari itu sunyi.
Dan kesunyian itu perlahan berubah menjadi sakit.
Aku hidup bersama seseorang yang tak pernah lelah menyakitiku.
Lucunya, cara dia menyakiti selalu sama, seolah luka di hatiku hanyalah rutinitas yang bisa diulang kapan saja.
Sampai suatu hari aku lelah.
Lalu aku bertemu denganmu.
Entah bagaimana, sesuatu yang sudah lama mati di dalam diriku tiba-tiba hidup kembali.
Ambisi itu.
Keinginan untuk bahagia.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menginginkan sesuatu dengan sangat kuat.
Aku menginginkanmu.
Kamu menjadi tujuanku.
Menjadi satu-satunya hal yang ingin kuperjuangkan.
Aku bahkan menjadi gila untuk mendapatkanmu.
Gila dengan cara yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Dan anehnya… aku bahagia.
Seolah-olah kebahagiaan yang selama ini tersesat akhirnya menemukan jalannya kepadaku—melalui kamu.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Dia kembali.
Orang yang selama ini terbiasa menyakitiku datang lagi, dan dalam satu waktu yang terasa begitu singkat… dia menghancurkan semuanya.
Kebahagiaan yang tidak pernah kudapatkan selama bersamanya—akhirnya hancur juga karena dirinya.
Dan aku…
Aku yang sepanjang hidupnya selalu mendapatkan apa yang diinginkan…
kali ini hanya bisa berdiri di tengah reruntuhan perasaanku sendiri.
Rasanya seperti hancur berkeping-keping.
Kini kamu pergi.
Menghilang.
Namun setiap malam aku masih berdoa dan berharap
Semoga suatu hari kamu sembuh seperti sedia kala,
cukup kuat untuk datang dan berdiri di hadapanku lagi.
Karena ada luka yang tidak bisa disembuhkan oleh waktu.
Luka ini…
mungkin hanya akan sembuh
di dalam pelukanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar