Senin, 30 September 2013

Menghadapi Masalah

Bagaimana cara kita menghadapi suatu permasalahan akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita di masa mendatang.

Saya memiliki dua orang teman, sebut saja Andi dan Budi. Saat itu mereka bekerja di sebuah perusahaan yang sedang berkembang. Sebelum mulai bekerja, manajer perusahaan tersebut menjanjikan gaji yang cukup baik. Karena janji itulah, mereka berdua memutuskan untuk menerima pekerjaan tersebut.

Sebulan pun berlalu. Tibalah saatnya mereka menerima gaji pertama atas kerja keras mereka selama satu bulan.

Namun ternyata, gaji yang mereka terima tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh manajer. Bahkan jumlahnya jauh lebih kecil dari yang pernah diucapkan. Mereka hanya menerima sekitar 30% dari gaji yang dijanjikan.

Sebenarnya mereka ingin sekali menemui Branch Manager untuk menanyakan mengapa gaji yang diterima tidak sesuai dengan janji sebelumnya. Namun karena tidak ada bukti tertulis yang menunjukkan bahwa manajer pernah menjanjikan gaji yang lebih tinggi, mereka pun mengurungkan niat tersebut.

Kekecewaan akhirnya tak terhindarkan.
Merasa diperlakukan tidak adil, Andi dan Budi pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tersebut.

Namun setelah itu, cara mereka menghadapi masalah ternyata sangat berbeda.

Andi merasa sangat terpuruk. Apalagi kondisi keuangannya saat itu sedang minus.

"Aku memang bodoh… bisa tertipu seperti ini. Aku malu kepada orang tuaku yang sudah menyekolahkanku sampai sarjana, tapi aku masih belum bisa apa-apa. Menghidupi diri sendiri saja sulit, apalagi membahagiakan mereka," gumam Andi dalam hati.

Sejak saat itu Andi lebih banyak berdiam diri di rumah.
Kejadian tersebut membuatnya murung dan kehilangan semangat untuk mencari pekerjaan baru. Hari demi hari berlalu, bahkan sampai berminggu-minggu. Andi semakin tenggelam dalam rasa putus asa.

Budi juga merasakan kekecewaan yang sama. Namun ia memilih cara yang berbeda untuk menyikapinya.

"Mungkin kali ini aku memang sedang tidak beruntung. Tapi pasti ada hikmah di balik semua ini. Aku harus berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik," gumam Budi dalam hati.

Dengan semangat yang tidak mudah menyerah, Budi mulai membuat sepuluh lamaran pekerjaan dan mengirimkannya ke sepuluh perusahaan yang berbeda.

Hasilnya pun beragam.

Tiga perusahaan ternyata tidak jelas dan terindikasi penipuan.
Empat perusahaan menolak lamarannya.
Namun tiga perusahaan lainnya memanggilnya untuk wawancara kerja.

Setidaknya, dari tiga kesempatan itu masih ada harapan untuk mendapatkan satu pekerjaan yang lebih baik.

Dari cerita Andi dan Budi, terlihat perbedaan sikap yang sangat mencolok.

Andi menunjukkan kekecewaan yang berlebihan. Ia berhenti mencoba setelah mengalami kegagalan. Ia lebih fokus meratapi masalahnya daripada mencari solusi.

Sementara itu, Budi memilih untuk tetap bertanggung jawab terhadap hidupnya. Ia tidak menyerah, tetap berusaha, dan fokus mencari jalan keluar daripada terus memikirkan masalah yang sudah terjadi.

Pada akhirnya, kita sendirilah yang menentukan akan menjadi seperti siapa.

Apakah kita akan menjadi seperti Andi, yang tenggelam dalam kekecewaan?
Ataukah seperti Budi, yang tetap bangkit dan terus mencoba?

Karena pilihan itu…
sepenuhnya ada di tangan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar