Kuambil air wudhu, membasuh air mataku.
Mencoba merasakan aliran rahmat yang hanya datang dari-Nya.
Pada awalnya, langkahku berat.
Hati yang terlilit—terlilit oleh benci yang bukan dari-Nya.
Segala rasa marah dan sakit menahan jalannya ketenangan yang kuharap.
Namun, perlahan… aku belajar ikhlas.
Walau awalnya terasa terpaksa, akhirnya kuikhlaskan segalanya pada-Nya.
Aku melantunkan ayat-ayat suci, doa-doa yang hanya bisa kuarahkan kepada-Nya.
Dan di situlah kutemukan ketentraman.
Jiwa yang tadinya penuh luka, kini merasakan damai.
Setiap hari, aku berusaha melupakan kesalahan orang lain terhadapku.
Melepaskan amarah, membiarkan hati kembali bersih oleh cahaya-Nya.
Agar kelak, hati yang bersih itu bisa terpancar dalam setiap maaf yang kuucapkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar