Dengan susah payah aku berusaha menggerakan salah satu tubuhku. Sepertinya aku telah tertidur selama ratusan tahun dan rasa kantuk masih menyerangku. Mataku pun masih enggan terbuka, rasanya berat sekali. Saat aku berhasil membuka mataku, aku melihat sosok wanita berwajah asia dengan mata sipit tersenyum sinis menatapku.
"Siapa kamu?" Tanyaku dengan perasaan takut.
Wanita itu tersenyum sinis kepadaku, lalu berkata" Aku menginginkan tubuhmu, aku telah kehilangan tubuhku karena wanita sepertimu."
Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud wanita itu, "Aku ada dimana? Kenapa aku ada disini? dan apa maksudmu menginginkan tubuhku? bahkan aku tidak pernah mengenalmu."
Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada wanita itu. Namun wanita itu segera menjawab pertanyaan ku dengan nada tinggi, sepertinya dia sangat marah kepadaku.
"Kenapa kamu ada disini? tanyakan pada dirimu sendiri, akupun tidak pernah mau berada di sini. Kamu yang membawaku ke tempat ini hingga aku terjebak di sini berbulan-bulan."
Tiba-tiba muncul sosok laki-laki beruban berkulit hitam dengan jas putih bersih rapi.
"Kalian berdua, kemarilah, ikutlah denganku." kata lelaki yang nampaknya berusia sekitar 48tahun.
Kami mengikuti laki-laki itu. Dalam sekejap, aku, wanita tersebut, dan laki-laki beruban itu telah sampai di rumah sakit di daerah athens ohio, entah bagaimana bisa tiba-tiba aku berada dirumah sakit itu secepat kilat. Rumah sakit yang cukup dekat dengan tempat kerjaku. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit telah mengingat sesuatu, ya, aku ingat, bukannya aku telah mengalami kecelakaan sebelum aku tertidur lama?
"Apa yang kau tunggu, ayo masuk." Kata wanita tadi.
Lamunanku buyar, aku segera mengikuti wanita dan laki-laki tersebut masuk ke dalam. Seketika tubuhku terasa sangat dingin, kepalaku semakin pusing mengingat apa saja yang telah terjadi padaku sebelum aku tertidur lama.
Kini aku memasuki salah satu ruang icu di rumah sakit tersebut, suhu ruangannya dingin, temboknya berwarna coklat muda, ada gadis yang tertidur di tempat tidur itu, wajahnya tertutup tabung oksigen yang dipenuhi oleh kabel-kabel. Rambutnya pirang agak panjang, kulitnya putih, tubuhnya diselimuti oleh selimut putih hingga yang terlihat hanya tangan penuh dengan kabel infus, sepertinya dia orang Inggris. Tak ada seorang pun yang menemani gadis yang tertidur itu. Sepertinya ruangan ini memang tidak boleh dimasuki oleh sembarangan orang.
Namun betapa terkejutnya aku hingga mataku hampir terlempar keluar jendela, setelah aku mendekati dan mengamati wajah gadis yang terbaring di tempat tidur itu dengan seksama, gadis itu adalah aku. Aku berteriak sekencangnya dengan rasa tak percaya, namun sepertinya mulutku tak bisa mengeluarkan suara itu. Aku menoleh kepada lelaki beruban dan wanita asia itu.
Tanpa aku bertanya lelaki itu tau apa yang saat ini aku pikirkan. Dia berkata yang aku tak mengerti apa maksudnya.
"Kadang kita perlu merelakan sesuatu yang memang sudah saatnya kita memberikannya untuk orang lain."
Wanita asia itu menambahkan kata-kata lelaki beruban tersebut, "Ya, kamu harus mengikhlaskan tubuhmu untukku."
Aku semakin tidak mengerti apa yang mereka katakan. Tiba-tiba aku mengalami pusing yang sangat luar biasa, hingga aku mengingat apa yang telah terjadi sebelum aku berada di rumah sakit tersebut, seperti di flashback,
Sore itu, aku masih berada di ruangan kerjaku. Hingga tunanganku menelponku, dan mengajakku untuk mencoba gaun pernikahan yang sudah kami pesan sejak satu setengah bulan yang lalu. Ya, dua minggu lagi aku akan menikah. Dalam perjalanan pulang kerja, aku banyak memikirkan hal-hal indah tentang pernikahanku dengan tunanganku, membayangkan gaun yang akan aku kenakan di pesta pernikahanku adalah impianku selama ini. Namun di tengah perjalanan aku mengalami kecelakaan menabrak sebuah mobil sedan merah yang berlawanan arah denganku. Ternyata di dalam mobil sedan merah itu adalah wanita asia yang sedang bersamaku saat ini.
Setelah pusingku berangsur menghilang, aku berusaha mengembalikan kesadaranku.
"Kau sudah ingat apa yang telah terjadi padamu?" Kata lelaki berjas putih itu.
Aku hanya mengangguk bingung dengan pertanyaan apa yang harus aku lakukan? apa yang mereka inginkan dariku?
"Kini sudah saatnya kau kembali nak, mari pulanglah denganku, yang memiliki waktu biarlah dia menyelesaikan urusannya di dunia ini, mari pulang denganku." Kata lelaki berkulit hitam tersebut.
Aku masih bingung hanya menatap mereka dengan tatapan berkaca-kaca.
"Karena kamu sudah menghancurkan tubuhku, maka aku akan menggunakan tubuhmu agar aku bisa kembali ke duniaku, dan kamu, pulanglah ke duniamu." Kata wanita asia itu dengan wajah datar.
"Lalu bagaimana dengan tunanganku? orang tuaku? pekerjaanku? kehidupanku? Tidak, aku tidak akan memberikan hidupku untukmu, aku akan kembali ke tubuhku."
Aku mendekati tubuhku, berusaha masuk lagi ke dalam tubuhku. Namun wanita itu menarik lenganku dengan kuat hingga aku terpental menabrak infus dan kabel-kabel yang ada di dekat tubuhku. Kami pun bertengkar hingga membuat suara gaduh ruangan. Lelaki berkulit hitam dengan uban di rambutnya itu berusaha memisahkan kami. Hingga seorang suster masuk ke ruangan ini kami baru menghentikan pertengkaran kami, mungkin karena suara gaduh yang kami buat. Nampaknya wajah suster itu keheranan melihat ke seluruh sudut ruangan, namun dia tidak melihat aku, wanita asia itu, dan laki-laki beruban yang sedang bersamaku.
"Sudah cukup nak, sekarang waktunya." lelaki itu memegangi tanganku.
Dalam sekejap, wanita asia itu telah memasuki tubuhku. Suster yang saat itu sedang memeriksaku, nampaknya kaget melihat tanganku yang mulai bisa bergerak, dia memanggil dokter untuk memeriksaku lebih lanjut. Selang beberapa saat, orang tuaku bersama dengan tunanganku datang sambil menangis terharu ketika dokter menyatakan aku telah sadar dan ini merupakan suatu keajaiban. Aku hanya bisa menyaksikan keadaan di dalam ruangan itu. Aku berteriak berusaha menjelaskan kepada semua orang yang ada di dalam ruangan icu tersebut bahwa yang ada di tubuhku itu bukanlah aku. Namun aku kembali tak mengeluarkan suara, hingga aku tampak seperti orang bodoh yang sedang berpantomim.
Aku menangis menyaksikan tubuhku telah terbangun, namun kini tubuh itu bukan aku, gadis inggris itu, saat terbangun, dia berbicara dengan bahasa mandarin yang aku sendiri tidak tau apa artinya. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu merasa kaget serta bingung, aku kembali tersenyum merasa mendapatkan harapan untuk bisa kembali ke tubuhku. Aku tidak akan pernah rela kehidupanku di rebut oleh orang lain.
Namun tiba-tiba ada cahaya di sekelilingku, lelaki itu mengajakku pergi mengikuti cahaya tersebut.
"Sudahlah nak, waktumu sudah habis, ikhlaskanlah, mari pergi denganku."