“Yah… wajar kalau dia marah padaku.”
Kalimat itu selalu kuucapkan pada diriku sendiri setiap kali aku tidak habis pikir—hanya karena hal kecil, ia bisa begitu marah kepadaku.
Aku mencoba memakluminya.
“Mungkin memang semua ini salahku.”
Lagi-lagi aku berkata begitu dalam hati, sekadar untuk meredam rasa benci yang mulai tumbuh.
Namun tetap saja, sebuah pertanyaan terus berputar di kepalaku.
Bagaimana bisa dia membenciku sedemikian rupa?
Ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa aku dibenci seperti ini membuat hatiku sakit.
Kadang muncul keinginan untuk membalasnya dengan kebencian yang sama.
Namun di saat yang sama, hatiku pun tak kuasa menahan rasa itu.
Dan aku sadar…
membalas kebencian dengan kebencian hanyalah menambah dosa.
Bukankah tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini?
Begitu juga denganku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar